Wakil Ketua DPRK Bireuen Tinjau Sejumlah Lokasi Paska Banjir dan Longsor, Minta Pemkab Bireuen Segera Tindaklanjuti Harapan Rakyat.


author photo

15 Des 2018 - 22.18 WIB


RADAR ACEH | Bireuen - Drs Muhammad Arif melakukan inspeksi pengawasan paska bencana banjir di Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, Sabtu (15/12/2018).

Muhammad Arif menyebutkan, dalam kurun waktu 40 tahun, bencana banjir kali ini di Kecamatan Peudada merupakan banjir yang sangat luar biasa parah yang telah meluluhlantakan sejumlah akses fasiltas publik.

"Saya sangat gusar dengan lambatnya proses penanganan tanggap darurat, apakah Pemerintahan Bireuen menunggu hancur total infrastruktur, baru ditangani," tanya Putra Peudada ini.

Berdasarkan hasil inspeksi tersebut, terdata beberapa catatan penting untuk mempercepat Recovery (pembangunan) kembali kerusakan sejumlah konektivitas sarana dan prasarana serta Infrastruktur publik, seperti putusnya tebing Waduk Paya Sikameh Gampong Blang Rangkuluh, Rusaknya dua saluran pintu air pada Waduk Paya Sikameh di berbatasan Gampong Alue Sijuek, jembatan jalan usaha tani masyarakat di Gampong Pintoe Rimba dan Gampong Cot Kruet, banyak yang ambruk tidak bisa lagi dilalui mobil pengangkut hasil petani.

Bukit pada jalan penghubung usaha tani banyak yang longsor di Gampong Pintoe Rimba dan Gampong Ara Bungoeng Kecamatan Peudada, ratusan hektar sawah yang berlumpur dan hanyutnya benih padi yang sudah disemai oleh masyarakat setempat, ditambah saluran aliran air sawah banyak yang telah rusak hasil inventarisir kita dilapangan lokasi titik banjir dan longsor serta ambruknya jembatan jalan usaha tani sejumlah desa di Kec Peudada", sebut Drs Muhammad Arif Andepa'.

Dalam kunjungan kerja inspeksi yang dilakukan bersama Muspika Kecamatan Peudada, diantaranya Camat Peudada, Drs Zamzami dan Kapolsek Peudada, Iptu Zulfikar serta Keuchik dan tokoh masyarakat setempat, Muhammad Arif juga mengunjungi sejumlah titik lokasi kerusakan imbas banjir dan longsor yang infrastrukturnya rusak sejumlah desa di Kecamatan Peudada.

Karena itu, katanya, perlu dilakukan tindakan tanggap darurat terhadap jembatan di samping SMA Negeri Peudada di Gampong Blang Bati, jembatan dr Fauziah, di Gampong Cot Kruet dengan lembar 5 meter dan panjang 6 meter.

"Perlu penanganan darurat jembatan Lorong Bakti ABRI Cot Kruet, 5×6 meter, tanggul Paya Sikameh, normalisasi sawah di utara Paya Sikameh dan normalisasi saluran air Paya Sikameh dengan menggunakan beberapa unit alat berat, seperti Beco dan Buldoser," kata Arif

Sementara infrastruktur lainnya yang juga perlu penanganan darurat adalah jembatan Simpang Raman Mayor Pinto Rimba, 5×5 meter,  jembatan Alue Meuku pinto Rimba, 5×8 meter, serta normalisasi longsor di Gampong Ara Bungo di tiga titik lokasi sepanjang 250 meter.

"Normalisasi jalan usaha tani yang terjadi longsor di Desa Ara Bungoeng, Blang Paya sudah menggunakan Buldoser dan Beco serta truk pembuang, jadi mohon ditanggulangi biaya oleh BPBD Bireuen," harap politisi Partai Nanggroe Aceh (PNA) tersebut.

Sementara untuk program lanjutan, sebutnya, Tanggul Paya Sikameh harus dibeton. Saluran air di cor pada jembatan di samping SMAN arah selatan dan barat jembatan.

"Secara geografis Kecamatan Peudada merupakan kawasan sering banjir dan memiliki banyak waduk dan aliran sungai besar. Banjir saat ini merupakan banjir yang sangat dahsyat dan pernah terjadi pada tahun 1978 atau 40 tahun silam," ungkapnya.

Akibat banjir kali ini menyebabkan banyak kerugian masyarakat antara lain, rusaknya sawah masyarakat seluas 50 hektar, sehingga harus dilakukan normalisasi karena sawah berlumpur.

Lalu, banyak saluran air saluran rusak, gagal panen baik sekarang maupun yang akan datang apabila pemerintah tidak cepat menanganinya. 

"Menurut perhitungan di lapangan, kerusakan infrastruktur umum mencapai Rp 5 miliar,  tanaman masyarakat Rp 2 miliar, gagal panen Rp 2 miliar," terang Arif Andepa. [SR]
Bagikan:
KOMENTAR