Mantan Keuchiek Geudong-Geudong Bireuen Dilaporkan ke Polisi


author photo

13 Des 2018 - 23.22 WIB


RADAR ACEH | Bireuen- Beberapa orang perwakilan masyarakat Desa Geudong-geudong Kecamatan Kota Juang yang merupakan Pengurus Badan Kenaziran Mesjid (BKM) Al-Mujahidin Kemukiman Geudong Kecamatan Kota Juang Kabupaten setempat yang didampingi oleh kuasa hukumnya Muhammad Ari Syahputra, SH mendatangi Polres Bireuen pada 12 Desember 2018. 

Kedatangan mereka ke Polres Bireuen khusus untuk membuat laporan polisi atas dugaan kasus Pengelapan yang diduga keras dilakukan oleh ZD selaku mantan Keuchiek Desa Geudong-geudong pada tahun 1994. sesuai Surat Tanda Terima Laporan Polisi No. STTLP : 215/XII/Res.1.11/2018/SPKT

Menurut Tgk. Erwin selaku sekretaris BKM Al Mujahidin laporan Polisi ini dibuat berdasarkan keluhan dari masyarakat desa Geudong-goudong yang pernah membeli tanah dengan ikrar wakaf untuk perluasan halaman Mesjid Al Mujahidin, dahulu bernama Mesjid Geudong pada tahun 1994 melalui mantan Keuchik yang berinisial ZD, tetapi masyarakat yang menyumbang atau ikut membeli tanah untuk wakaf dan peruntukannya dipergunakan sebagai peluasan mesjid AL Mujahidin tersebut tidak pernah mengetahui dimana lokasi tanah tersebut sampai saat ini.

Bahkan menurut Erwin didalam arsip BKM Al Mujahidin tidak pernah di jumpai Akta tanah atau Akta Jual Beli (AJB) tanah terhadap perluasan halaman Mesjid tersebut dan yang ada dalam arsip BKM hanya sumbangan masyarakat desa Geudong-geudong dalam bentuk list dan juga kwitansi bukti pembayaran yang di terima dan ditanda tangani dalam kwitansi tersebut oleh terlapor (ZD). 

Berdasarkan keluhan masyarakat tersebut baik yang menyerahkan uang di catat dalam pembukuan (list) dan juga bukti kwitansi pembayaran yang dimiliki masyarakat sehingga mereka melaporkan ZD ke Polres Bireuen atas dugaan tindak pidana Penggelapan dan Perbuatan Curang.

Sementara itu, Muhammad Ari Syahputra selaku kuasa hukum dari Pelapor menerangkan kepada media Radar Aceh via pesan WhatsApp, Kamis (13/12/2018) bahwa kasus ini berat dugaannya dengan penipuan dan perbuatan curang sebagaimana dimaksud dalam pasal 372 KUHP dan 378 KUHP.

Dimana maksud dari pasal 372 dan 378 KUHP tersebut menurut Ari adalah Penggelapan yang dilakukan dengan sengaja melawan hukum untuk memiliki barang sesuatu sebahagian atau seluruhnya kepunyaan orang lain dan berada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan, serta perbuatan curang yang dimaksud adalah menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan memakai nama palsu atau martabat palsu dengan tipu muslihat atau rangkaian kebohongan serta menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya," terang Ari. [SR]
Bagikan:
KOMENTAR