CINTA TAK BERJUDUL


author photo

24 Des 2018 - 22.34 WIB


Hari terus berganti, matahari telah berpuluh-puluh kali jatuh disudut bumi. menandakan cerita akan berganti. malam ini rembulan kembali menunjukkan pesonanya, angin mengantarkan embun pada ranting pepohonan menemaniku yang didekap rindu. sulit kurasa malam ini untuk berselencar dalam ruang mimpi, mata yang tak ingin terpejam dan kenangan masa lalu menjadi kafein dalam hidupku.

Ting  ting notifikasi WA ku berbunyi,  sial, masih ada saja manusia yang belum sempat memejamkan mata di jam 01.00 ini.. pikirku. dengan rasa malas kusempatkan tangan ini membuka pesan masuk.

hai apa kabar?, sapa panji melalu chat WA nya.

Serontak mata terbuka lebar, jantung memaksakan diri berdetak lebih kencang, dan pikiran ku memaksa mulut memaki sekejam-kejamnya. ya, panji adalah masa laluku. mahasiswa paling bandel kala itu, berantam, merokok, dan  mabuk telah menjadi rutinitas dikehidupannya. hampir tiga tahun lamanya aku menjalin tali kasih namun tak sempat tersimpulkan, tali terlepas, kusut, dan tak  selurus seperti semula. tapi tunggu dulu, aku memiliki sahabat, karin namanya. jauh sebelum aku terbunuh rasa, karin telah menaruh hati kepada panji. 

Namun sayang, telapak tangan tak terbalas saat menepuk. panji ternyata menyukaiku, sahabat karin sendiri. hingga pada akhirnya karin menemuiku yang pada saat itu sendang mengerjakan tugas disalah satu cafe.

"Azka, jika ada salah satu laki-laki menyukaimu, tetapi sahabatmu juga suka dengan lelaki itu, kamu relain dia untuk sahabatmu atau kamu memlilih dia? tanya karin diiringi suara sendok yang beradu dengan gelas terkejut dan merasa itu tidak akan mungkin, aku menjawab dan tetap fokus pada layar laptopku  terserah dengan laki-laki itu saja, terserah dia mau milih siapa. atau gini saja pertanyaan kamu itu, jika dia memilih kamu, aku relain. tapi jika dia memilih aku, kamu relakan gak? cetusku dan melihat karin hanya tersenyum saja.

desa tempat aku tinggal terkenal dengan udara sejuk dan keindahan alam yang menakjubkan, haripun terus berganti dan masuk musim penghujan semenjak kejadian itu. tanah yang tak sempat kering, sinar mentari sangat berharga saat itu namun cukup untuk menghidupkan cahaya cinta. laki-laki yang dimaksud oleh karin seminggu kedepannya menghubungiku.

" Azka, dengan disaksikan sinar rembulan, tersuburkan oleh rintikan hujan, sinar mentari memekarkan bunga cinta, dan senja membuatku merenung, akankah kamu menjadi milikku. dua tahun telah lamanya aku terpanah oleh busur rasa yang aku asah sendiri. tepat pada pengenalan mahasiswa baru aku telah menaruh senyummu dalam hatiku sebagai wanita yang kuidamkan ungkap panji dalam pesan whatshappnya.

Terduduk bisu, pikirku mati dan logika mencoba membawaku pada akal sehat. ini menjadi hal paling sulit dalam hidup seorang perempuan yang tak pernah merasakan dunia pacaran, rasa takut terus menghantui membuatku hampir lupa menjawab pesan dari panji.  sinar rembulan tak cukup untuk menajadi saksi, ada kala ia tertutup awan, hujan juga ada yang membawa bencana, dan sinar mentari juga sering membunuh. tetapi kuhargai perenunganmu dihari senja. 

Maafkan aku, tidak ada maksud hati menyakiti lelaki yang bergerilya dihutan cinta yang bermodal panah rasa. aku belum bisa menerimamu dan membawamu agung dalam membela cinta pesanku terkirim dan dengan cepat mendapat centang biru namun tak dapat balasan.

Lagi-lagi hari terus berganti, aku tetap menjalani hari dengan sinar mentari yang sayup dan bekas rintikan hujan yang terhapus oleh gesekan sepatu. pesan dari panji terus terniang dalam pikiranku, seakan-akan menjadi benalu merusak seluruh nadi dan meluluhtahkan recana harianku.

Tanaman yang engkau rebah di penghujung musim hujan itu menumbuhkan tunasnya, kupikir cintaku akan mati setelah hembusan angin darimu, ternyata tidak. Hujan menumbuhkan tunas kayu yang engkau rebah, mentari membantu menyuburkannya dan rembulan setiap malamnya bersaksi akan cinta ini. fajar pagi bagian semangatku, senja tetap renungku tak kusangka tiba-tiba pesan dari panji masuk lagi kedalam whatshappku.

Tidak berpikir panjang aku langsung menjawab pesan dari panji kala itu.  entah bagaimana lagi caraku untuk memulangkanmu, penolakan demi penolakan terus kulakukan, seakan-akan itu menjadi pupuk cintamu. Kali ini, aku menerimamu masuk kedalam hatiku, dengan syarat engkau harus berubah dan meninggalkan rutinitas jahatmu tegasku padanya mentari kembali terbit dari timur menunjukkan pagi telah tiba dan harus bergegas kekampus dan menjali hari pertama menjalin cinta.

Benar seperti yang dikatakan peyair pujangga, cinta mampu merubah segalanya, mataku tertuju kepada seorang laki-laki berpakaian rapi dan itu adalah panji. banyak yang berubah dari panji, tidak pernah telat, tugas yang selalu siap, panji berubah sangat drastis dan akhirnya panji mendapat IP 4.00 semester ini.

Panji saat itu menjadi salah satu laki-laki yang tidak ingin aku terluka, sakit hati dan semua yang membuatku rugi. senja dan fajar terus berlomba memberikan keidahan disetiap harinya namun tak ada yang lebih indah dari perjuangan panji, berantam akibat ada yang menggangguku, menjadi orang pertama mengejarku ketika aku tertabrak dan menjadi laki-laki yang paling sedih ketika di kroyok oleh temannya akibat aku. 

Seimbang dengan perjuangannya, sering kali kutemui ia bermain jahat dibelakangku, selingkuh untuk memenang kan nafsu yang tak pernah sedikitpun ia dapatkan dariku, berulang kali aku meminta pisah namun ada saja perjuangan yang membuatku kembali lemah.

Tepat dipenghujung semester, laki-laki yang mencetuskan nama gedok sebagai nama kesayangannya untukku itu berniat melanjutkan studynya dipulau jawa. niat itu menikam jantung, memutuskan nadi-nadi yang bersisi namanya yang telah berbingkai anggun. kucoba berbesar hati, hari kepergiannyapun tiba dan merajut cinta yang terpisah jarak akan sulit terjalin dengan jarum rindu.

Seiring beratnya menanggu rindu aku juga dikuatkan dengan kabar bahwa laki-laki yang kupuja telah berubah, sholat tak pernah tinggal, mabuk dan lain-lain telah ia tinggalkan. cinta ku tembuh semakin besar, tetapi terpagar jarak dan rindu sebagai siksanya. pada suatu ketika angin mengantarkan badai pada handponeku, nomor baru yang mengaku sebagai kekasihku tiba-tiba mengirim pesan permintaan putus. terpental rasanya badan ini ke dinding berduri, berantam yang tak pernah kurasakan, pada saat itu telah kurasakan. dan singkat cerita, tali yang kujalin tak tersimpulkan, kusut, dan melilit jantung membunuh namanya pada nadiku.

Setelah perperangan bersejarah itu. panji yang dulu menjabat sebagai kekasih dan yang menduduki singasana hatiku kembali menghubungiku dan mengatakan aku salah paham dengan yang terjadi pada saat itu. ia pulang dari pulau jawa mengarungi jarak dan ingin membunuh rindu, ingin menjelaskan bahwa pesan singkat yang berisi kaliat putus itu bukanlah dari dirinya, pesan singkat itu merupakan pesan dari orang yang menyukaiku dan menginginkan kami berpisah. Maksud hati tidak ingin lagi kembali ke pulau jawa karena memelihara cinta yang terkurung jarak akan membuat kita terbunuh akibat rindu. namun apadaya tak sempat bersembah lutut, tangan berjabat dan jarak semakin singkat, ia mendengar bahwa aku telah kepunyaan orang lain dan iapun tanpa basa basi kembali kepulau jawa.

baru-baru ini ia menghubungiku lagi dan ingin menjalin kembali tali kasih yang telah lama terbaikan, namun aku ingin kembali seperti sediakala, tidak berpacaran. tidak mungkin aku membunuh harapannya namun harapanku telah lama terkubur, ku ucapkan kepadanya, apabila menginginkan ku sebagai makmum di sholatnya nanti dan menjadi satu-satunya wanita yang menyalamimu ketika meninggalkan rumah maka tunggu studyku selesai dan temui orang tuaku : penulis Rizky Saradi
Bagikan:
KOMENTAR