Himapas: Dulmusrid Sazali Jangan Menjadi Ambang Kehancuran Untuk Aceh Singkil


author photo

27 Nov 2018 - 08.57 WIB


Aceh --- Himpunan mahasiswa dan pelajar Aceh Singkil HIMAPAS Banda Aceh menilai kepemimpinan dulsaza selama lebih kurang dua tahun ini tidak jelas arah kepemimpinannya, Selasa (27/11).

Zazang Nurdiansyah selaku sekjen Himapas mengatakan sampai sejauh ini sudah hampir dua tahun tidak jelas arah kepemimpinannya, baik di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, infrastruktur, sosial dan agama,"tegas Zazang.

Banyaknya persoalan yang terjadi selama kepemimpinan Dulmusrid-Sazali seakan tidak ada titik penyelesaian seperti tempo lalu PT Socfindo mengaliri limbah ke sungai sampai sekarang tidak ada penyelesaian bahkan tingkat hasil sampel yang di tunggu dari laboraturium sampai sejauh ini juga belum keluar, ini terkesan semacam pembiaran dari pihak pemda,"paparnya lagi. 

Padahal ini menyangkut masalah serius dan jika memang di biarkan seperti ini terus berarti visi sejahtera yang selama ini menjadi kebanggaan Dulsaza bisa kita katakan gagal. Bukannya mensejahterakan masyarakat malah membuat malapetaka untuk masyarakat sendiri, atau memang ada kesengajaan dalam permasalahan ini,"kata Zazang

Bukan hanya itu Zazang juga menyampaikan jika kita lihat mutasi tempo lalu juga banyak bermasalah. Seperti pengangkatan kepala sekolah yang tidak mempunyai sertifikat cakep. Padahal salah satu visi Dulsaza adalah mencerdaskah  generasi daerah kususnya Aceh Singkil. Padahal suksesnya suatu daerah adalah suksesnya akumulasi individu- individu,"tegas Zazang.

Selain itu permasalahan kesehatan juga demikian tidak di tangani secara serius sehingga masyarakat yang dikategorikan menengah kebawah yang jadi sasaran akibat pemimpin yang pesimis dan ragu dalam mengambil kebijakan. 

Ada pasien Novianti istri dari Arafik yang tinggga di komplek BRR Jalur 3 pasien hamil 7 bulan hasil USG bayinya diperkirakan sudah meninggal dunia pasien juga mengalami bocor jantung. Beberapa waktu yang lalu sudah di rujuk ke RSUD Aceh Singkil lalu dirujuk ke RSUYA Tapaktuan.

Seharusnya dr Tapaktuan harus dirujuk ke Banda Aceh, akibat keterbatasan biaya pasien dibawa pulang lagi ke Singkil jika memang pemda tanggap terhadap ini mungkin pasien ini bisa di rujuk langsung ke RSUZA Banda Aceh, namun karena lalai atau apalah sehingga pasien ini harus pulang ke daerah.

Tambahnya lagi baru-baru ini juga pengangkatan direktur BUMD juga berbenturan dengan hukum. Yaitu menabrak qanun nomor 5 tahun 2014 tentang perusahaan daerah dan peraturan (pp) nomor 54 tahun 2017 tentang BUMD.

Bukan hanya itu seharusnya direktur yang di angkat mempunyai pengalaman kerja 5 tahun tentang perusahaan dan dapat dibuktikan dengan referensi sebelumnya.

Namun menurut pantauan HIMAPAS Banda Aceh yang di angkat jadi direktur tersebut tidak mempunyai pengalaman kerja tentang perusahaan. Makanya HIMAPAS menilai BUMD ini kategori ilegal dan cacat hukum dan lebih baik di lakukan pemilihan ulang,"ujar Zazang kembali.

Seharusnya Dulmusrid dan Sajali melakukan penyegaran atau mutasi SKPK sesuai apa yang di sampaikan Bupati Aceh Singkil tempo lalu sehingga roda kepemimpin Dulsaza berjalan sesuai sebagaimana mestinya.
Tapi jika memang tidak dilakukan dan pola seperti sekarang terus di perlihatkan tak jauh beda 0+0=0 Atau nihil.

Dan jangan sampai masa kepemimpin Dulmusrid- Sazali ini menjadi ambang kehancuran untuk daerah Aceh Singkil dan menjadi cacatan sejarah.

Tambah lagi masalah bencana seperti banjir sampai sejauh ini juga tidak ada solusi yang diberikan. Jelas sampai sejauh ini visi Dulmusrid dan Sazali sehat cerdas dan sejahtera tidak berjalan dan terkesan selogan perubahan hanya untuk membodohi masyarakat tegas,"Zazang (Rel)
Bagikan:
KOMENTAR