Terkait Penganiayaan Istri Wartawan yang Dilakukan Terdakwa Mahyu BK, ini Tanggapan Suami Korban


author photo

6 Sep 2018 - 22.44 WIB


RADAR ACEH | Bireuen - M. Sulaiman yang sering disapa Sulaiman Gandapura bersama keluarga besarnya mendesak proses tuntutan dalam persidangan kasus penganiyaan terhadap istrinya dapat berjalan sebagaimana konsekuensi hukum yang berlaku.

"Sambil menunggu jalan prosesnya sidang tuntutan kita juga berharap untuk dapat bersama-sama mengawal proses hukum sampai tuntas," ujar Sulaiman kepada Radar Aceh, Kamis (6/9/2018) sore.

Sementara itu, dalam proses jalannya persidangan di Pengadilan Negeri Bireuen pada Rabu (5/9), Mahyu Danil atau Mahyu Batee Kureng (36) warga Desa Cot Rambat, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen yang dihadirkan sebagai terdakwa  dalam kasus penganiayaan terhadap korban Fathiah (31) yang juga istri Wartawan Atjeh Net, menyangkal telah menggunakan kayu dan batu bata untuk menghajar korbannya itu, namun Terdakwa hanya beduel dengan  saling jotos-jotosan.

Dalam persidangan yang dipimpin Hakim Ketua Muchtar, SH dengan Hakim anggota, Rahma Novianti, SH, dan Irwanto SH menghadirkan saksi korban, Fathiah serta Fatanah (50), Putri Wahyuni yang semuanya warga Desa Cot Teube, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen dan Murtala (49) warga Bangka Jaya, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara

Kendati seluruh saksi telah menyatakan terdakwa telah menganiaya korban Fathiah, ini sangat aneh kilah terdakwa yang menyangkal hanya mengakui jika terdakwa hanya "bertinju" dengan korban dengan saling memukul atau jotos-jotosan, 

"Apakah pantas seorang laki-laki melakukan jotos atau tinju dengan seorang perempuan, dan terdakwa juga menyangkal telah menggunakan kayu dan batu bata untuk memukul korban serta tidak mengakui jika kayu dan batu bata yang turut dibawa ke pengadilan sebagai barang bukti", ujar Sulaiman

Begitupun terdakwa mengakui visum yang menyebutkan sejumlah luka-luka di  bagian kepala korban, yang disebutkan  akibat jotos-jotosan.

Sedangkan Fathiah yang dihadirkan Jaksa Siara Nedi sebagai Saksi korban, menyebutkan awal kejadian yang menimpa dirinya, berawal pada 11 Mei 2018 lalu, saat dirinya sedang menyapu di halaman rumahnya. Tiba-tiba datang terdakwa dengan menggunakan mobil pick-up di jalan desa, depan rumahnya sambil mengejek dirinya, karena jengkel korban mangambil batu lalu melempar kearah korban yang mengenai bagian mobilnya. Lalu terdakwa turun dari mobil," ungkap Fathiah

kemudian terdakwa Mahyu mengejar korban yang berusaha lari ke dalam rumahnya.

Namun keburu rambutnya dijambak terdakwa,  yang sekaligus terdakwa mengambil kayu dengan menghajar ke bagian kepala juga dibagian punggung, dan setelah kayu yang dipegang terdakwa terjatuh, kemudian mengambil batu bata yang serta menghantam bagian kepalanya yang membuat korban terjatuh tidak berdaya. 

Namun tidak hanya sampai disitu, lalu terdakwa dengan menggunakan lututnya mengimpit perut korban yang sudah jatuh terlentang, sehingga Korban keluar kencingnya akibat dihimpit terdakwa. 

Ternyata terdakwa tidak menghentikan aksi brutalnya dan melanjutan dengan menghujam "bogem mentah" ke muka dan tubuh korban yang mengakibatkan korban Fathiah, pening-pening sambil merintih kesakitan.

Sementara saksi Putri Wahyuni yang melihat aksi penganiyaan itu, hanya mampu berteriak sambil minta tolong yang ketika itu menyangka korban Fathiah sudah meninggal dunia. Akibat dianianya terdakwa Mahyu Batee Kureng. 

Kemudian Saksi Murtala yang mendengar teriakan minta tolong itu, mendatangi arah teriakan tersebut, dan melihat Mahyu sedang memukuli korban sambil menghimpit korban yang menggunakan lututnya.

Lalu saksi, berusaha melerainya dengan mendorong tubuh terdakwa, namun saksi sempat juga menerima pukulan dari terdakwa  sambil menghardik "Siapa kau tanya terdakwa dengan lantang".

Sementara saksi Fatanah, yang datang belakangan juga menyaksikan aksi pemukulan saat tubuh korban dihimpit oleh tubuh terdakwa, sambil memukul. Saksi, mencoba memisahkan, seraya mengatakan untuk tidak berkelahi lagi dan akhirnya terdakwa meninggalkan tempat itu, walaupun Mahyu dalam keadaan tidak puas.

Terhadap seluruh keterangan saksi terdakwa Mahyu Danil membantah telah menganiaya terhadap korban, Ia hanya mengakui bertinju dengan korban dan tidak menggunakan kayu dan batu bata untuk memukulnya. Terdakwa hanya saling memukul yang masing-masing sebanyak dua kali. "Kami saling pukul sebanyak  dua kali," ucapnya.

Sambungnya, "kehadiran Saksi Murtala dan Fatanah bukan untuk memisahkan, tapi ikut mengimpit diri saya," tanggap terdakwa dengan nada gugup.

Selanjutnya, Majelis hakim akhirnya, menunda sidang sampai Rabu depan untuk mendengar tuntutan Jaksa Siara Naedy terhadap terdakwa yang hadir ke pengadilan tanpa didampingi penasehat hukumnya. 

Dalam persidangan kemarin terdakwa mengakui sangat menyesal atas perbuatannya itu. [REL/MS]
Bagikan:
KOMENTAR