Selamat Datang Mahasiswa Baru


author photo

30 Agt 2018 - 22.44 WIB


Oleh: Khalid Munandar

Hiruk pikuk kedatangan mahasiswa baru sudah terasa mulai seminggu yang lalu, padat, tapi tak merayap hingga pengap.

Koperasi dan kantin kampus menjadi saksi bisu betapa sibuknya para mahasiswa baru itu menyiapkan diri mereka berkuliah di kampus tercinta dan bahkan ada yang datang sebelum gerbang kampus di buka.

Toko-toko perlengkapan  hingga fotocopian diserbu hanya untuk mendapat buku "panduan" serta perlengkapan untuk sebuah kegiatan yang konon kata nya kakak– kakak senior memiliki kekuatan khusus untuk mendidik mahasiswa baru, dengan kata lain menyebutnya  orientasi karakter mahasiswa baru (OKMARU) , ya melalui papermob, Hura-hura, orasi ilmiah dari para politis kurang kerjaan, penyedia jasa endorsmen, adanya sedikit sentakan dan teriakan yang lumayan menjadi hiburan bagi mahasiswa semester tua yang sudah lama menjomblo, itulah mungkin yang menjadi motif kegiatan pengenalan akademik ini dilakukan. 

Kegiatan tahunan ini seolah-olah menjadi sebuah ritual wajib yang jika ditelisik lebih dalam dana untuk kegiatan ini sejatinya bisa membiayai kegitan mahasiswa yang sejatinya lebih menguntungkan nama kampus (UKM).

Program Pengenalan Akademik hanya sedikit (kalau tidak mau dibilang tidak ada) yang berbau akademiknya.

Buku yang ditugaskanpun hanya buku panduan berisi narsisme para panitia, bukan buku catatan harian Gie, apalagi Masa Aksi yang ditulis Tan malaka. 

Belum lagi disuruh menghapal lagu suporter yang diubah menjadi lagu kampanye dan diubah lagi menjadi lagu yel-yel OKMARU, sudah kegiatannya nirguna, lagunya nir-kreativitas.

Lain lagi soal Konservasi yang semakin basa – basi yang sangat basi dengan adanya kegiatan Papermob yang harus menghabiskan berapa kertas dan seperti yang kita tahu, kertas – kertas itu dibuat dari pohon-pohon yang ditebang.

Belum lagi kegiatan nanti hanya akan menjadi ruang bagi para politisi untuk membuali mahasiswa, selain ratusan sponsor kapital yang mencari muka pada polosnya mahasiswa, sampai dalam salah satu penguasaan sang sponsor berhasil menyelinap agar para mahasiswa membeli produknya dan BEM (Badan Endors Mahasiswa) sangat lihai dan paham betul akan hal itu.

Oh my God! inikah yang disebut kegiatan. 

Pengenalan akademik di perguruan tinggi? Nilai esensi kritikan untuk segenap anggota dewan "mahasiswa" yg pernah ataupun sedang menjabat sebagai BEM atau Badan Endors Mahasiswa, yg terus menerus "mentradisikan" adat yg salah.

Khalid Munandar adalah Mahasiswa Universitas Jabal Ghafur
Bagikan:
KOMENTAR