Refleksi 13 Tahun Perdamaian Aceh di Mata Pemuda Bireuen


author photo

15 Agt 2018 - 22.03 WIB


Perdamaian Aceh bukan lahir begitu saja namun membutuhkan Proses pengorbanan harta, nyawa dan keluarga demi memperjuangkan harkat dan martabat bangsa ini.

Genjatan senjata di seluruh pelosok, mayat terdampar di mana-mana seolah perang tidak akan reda seperti hari ini, air mata masyarakat setiap hari mengalir, rasa sedih dan troma rakyat alami sehingga Aceh terpuruk Tampa perputaran ekonomi yang tajam dan pembangunan infrastruktur yang memadai karena pembakaran dan penembakan selalu terjadi di mana-mana. 

Ketika Allah SWT memberikan perdamaian Tampa terduga tapi dengan kehendak NYA semua nyata dalam sekejap mata demi masyarakat Aceh yang aman dan damai dalam. Menjalankan ibadah dan usaha. 

Sehingga 13 tahun perdamaian Aceh perlu introspeksi diri para pejuang yang memangku amanah rakyat di parlemen apa dan kenapa semua bisa terjadi rakyat belum sejahtera, hingga saat ini masih ada harapan yang tersisa pada mantan pejuang. 

Kepedihan dan luka masa lalu belum hilang namun kebahagiaan masa depan rakyat ingin merasakan dari hasil perjuangan yang pernah di ucapkan dalam rimba tuhan.

Kini semua eks GAM harus bersatu dalam satu barisan memperjuangkan wasiat dari indatu , 13 tahun ini sudah cukup para elit yang membawa nama Aceh untuk kepentingan pribadi atau kolompok hingga kini masyarakatnya masih Sengsara dalam desa, sehingga marwah perjuangan hilang Tampa arti karena jabatan dan kekuasan satu perjuangan saling melupakan dan permusuhan, cukup sudah ini terjadi. 

Hari ini dan esok perlu waktu memperbaiki karena perdamaian Aceh lahir Dari keringat dan nyawa para syuhada yang telah kembali kepada sang Khaliq tidak lepas dukungan masyarakat Aceh semua. 

Sudah saatnya satukan langkah bedakan pilihan bagun kekompakan   capai tujuan untuk kemerdekaan Aceh baik ekonomi, pendidikan kesehatan dan lainnya.

saat ini elit pemangku perubahan bangsa Aceh terjebak politik hana fee, namun dalam sekenaRio hingga  semua terjebak dalam kekuasaan dan kepentingan memperkaya diri dan kelompok, sudah cukup.

Anak syuhada, dan para duafa menanti perubahan di pelosok desa, otonomi khusus Aceh hampir habis tapi rakyat masih sengsara, maka 13 tahun ini menuju kedepan memerlukan ide dan gagasan dalam keikhlasan membangun Aceh yang bermartabat sesuai sumpah masa dalam gunung.

Mari kita berzikir dlm memperingati hari perdamaian antara RI dengan GAM yg ke 13 ini agar keadaan damai sejahtera selalu kita rasakan, yang terhenti belum berakhir maka lanjutkan dalam diplomasi antar bangsa dan negara yang bahwa Aceh meminta  merdeka dan pernah jadi negara.

Sejarah masa lalu ingatan untuk masa depan, namun doa dan harapan semua niat Kemulyaan tercapai dalam jiwa pejuang. 

Penulis alumni SPMA Bireuen
Azhari ketua umum GPPM
Bagikan:
KOMENTAR