Kadiv. Pendidikan SPMA Bireuen: Indonesia Butuh Sosok Pemimpin yang Visioner


author photo

18 Agu 2018 - 15.55 WIB


RADAR ACEH | Bireuen- Perbincangan mengenai politik saat ini sudah merebak ke berbagai kalangan, baik itu yang muda maupun tua sedang hangatnya membahas politik terutama isu pemilihan sosok pemimpin pada pilpres 2019 mendatang.  

Semua berhak berpendapat dan bersuara tak terkecuali siapapun mereka, apalagi masyarakat Indonesia saat ini yang ingin perubahan dengan terpilihnya presiden pada pilpres tahun 2019.

Kriteria pemimpin yang diharapkan tentunya harus mampu menjawab permasalahan bangsa dan mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Kadiv. Pendidikan SPMA Bireuen Elga Savitri, Sabtu (18/8/2018) menuturkan, "sosok pemimpin yang diharapkan oleh masyarakat Indonesia adalah mereka yang memiliki visioner atau arah tujuan pasti kedepannya dengan kerja nyata bukan hanya sekedar teori belaka.  

Keduanya merupakan kolaborasi yang sangat pas untuk menjawab segala tantangan dan permasalahan negeri ini. 

"Akhir-akhir ini kita kesulitan mencari figur yang memiliki standar demikian", tambah Elga

Seorang pemimpin yang visioner berpeluang besar untuk menata dan membangun negeri ini dengan sangat tepat karena mereka memiliki pandangan yang jauh kedepan melalui pemikiran dan perencanaan yang sudah matang dalam mewujudkannya. 

Sedikit mengkaji ulang, visioner merupakan orang yang memiliki gambaran tentang arah yang seharusnya ditempuh oleh bangsa ini. Ia memiliki pemikiran dan perencanaan tentang masa depan melalui kearifannya. 

Visioner memiliki banyak makna namun ada beberapa yang sangat mendasar bagi seorang visioner yaitu cerdas, inovatif, intuitif, pintar, bijak, banyak gagasan dan berpandangan jauh.

Tanpa modal dasar ini, seseorang akan mengalami kesulitan untuk memproyeksi dirinya sebagai seorang pemimpin. Apalagi dia yang telah dinobatkan sebagai seorang pemimpin maka akan menghadapi masalah untuk mengendalikan lingkaran kekuasaannya. Dia akan tenggelam oleh hiruk-pikuk orang yang mengetahui kelemahan dirinya.

Tidak bisa dipungkiri, Indonesia kekurangan akan sosok yang seperti itu sehingga wajar saja berbagai persoalan ketatanegaraan muncul karena kurangnya karakter dasar yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin. 

Mungkin pertanyaan menariknya adalah mengapa seseorang yang tidak visioner bisa muncul menjadi pemegang kekuasaan penting??? 

Mudah saja, keberagamaan masyarakat yang kemudian melahirkan kompetisi ideologi yang sengit, membuat golongan kecil secara electoral tetapi besar dari segi kekayaan ekonomi keuangan mampu melakukan rekayasa politik sehingga seseorang yang bisa diatur naik ke tampuk kekuasaan. Inilah yang sering terjadi di Indonesia.

Lantas kapan kita bisa memiliki pemimpin yang visioner??  Kapan kita memiliki pemimpin yang punya konsep tentang tujuan yang pas bagi rakyatnya? 

Jawabannya ada pada diri kita sendiri. Kenali sosok pemimpin pilihan kita dan harus selalu optimis karena masih ada kesempatan dan pasti akan selalu ada sosok yang memiliki standar itu", tutup Elga. [REL/SR]
Bagikan:
KOMENTAR