Indonesia Dan Saudara Kembarnya"


author photo

18 Agt 2018 - 13.42 WIB


Devi Andriyani, S.P., M.Si
(Dosen fakultas ekonomi  dan bisnis Universitas Malikussaleh)

Hiruk pikuk dan keramaian perayaan kemerdekaan negara kita "Indonesia" tercinta  baru saja kita lalui.
Di berbagai sudut masih tersisa bukti kemeriahan tersebut.

Sekarang Mari kita  lihat negara lain yang perayaan kemerdekaan nya berdekatan waktunya dengan negara kita.

Negara tersebut adalah Korea Selatan.
Negara Korea Selatan yang saat ini dikategorikan negara maju ternyata juga baru merayakan kemerdekaan nya.

Korea Selatan merdeka tanggal 15 Agustus 1945 sedangkan Indonesia seperti kita ketahui merdeka di tanggal 17 Agustus 1945. Hanya beda 2 hari, ibarat bayi maka Indonesia dan Korea Selatan adalah bayi kembar, yang lahir diwaktu yang berdekatan.

Bayi-bayi tersebut terlahir dengan berat badan yang sangat berbeda, jika Korsel lahir dengan sangat miskin, sedangkan Indonesia terlahir dengan kekayaan sda yang sangat berlimpah.

Tetapi saat bayi-bayi negara tersebut tumbuh besar kondisi mereka jadi sangat berlawanan. Korsel sekarang menempati papan atas negara maju, sedangkan Indonesia masih berjuang menjadi negara berkembang. 

Mari kita lihat apasaja penyebab keterpurukan Indonesia dibandingkan kembarannya. Masyarakat Korea Selatan tidak pernah merayakan 15 agustusan se-meriah yang kita lakukan, tidak ada umbul-umbul, pawai dan perlombaan. Mereka hanya mengibarkan bendera saja. 

Apakah mereka tidak mencintai negaranya?? Tentu jawabannya "tidak" mereka sangat mencintai Negara mereka.

Jika di kantor-kantor, dinas-dinas dan sekolah-sekolah dinegara kita yang tercinta ini wajib memasang foto presiden dan wakil presiden, maka dinegara korsel, hanya memasang bendera saja.  pertanyaannya apakah mereka tidak mendukung pemerintah yang terpilih?? Tentu jawabannya juga "tidak" mereka sangat mendukung pemerintahan yang terpilih. hanya saja bagi mereka "siapapun presidennya negara ku tetap Korea".

Mengapa mereka bisa seperti itu? Mari kita sedikit belajar dari sejarah dan pola pikir masyarakat korsel.

Diawal kemerdekaannya, masyarakat korea selatan hidup dalam kondisi yang sangat miskin, hingga untuk mengkonsumsi makanan pokok sehari sekalipun mereka terkadang tidak mampu. Tetapi kondisi yang sulit ini menyebabkan persaudaraan diantara mereka semakin erat. Mereka akan saling berbagi makanan, Hingga ucapan salam diantara mereka saat itu jika bertemu adalah "sudah makan nasi??" 

Jika belum maka akan diajak makan, dan kebiasaan ini terus mereka wariskan ke anak cucu mereka. inilah alasan mengapa orang Korea Selatan selalu membawa 2 bekal makanan saat bepergian, dan tradisi ini masih berlangsung hingga saat ini. 

Dalam diri rakyat Korsel tertanam pola pikir bahwa "jika mereka mencintai negara mereka, mereka harus mencintai saudara senegaranya" Rasa cinta tanah air mereka wujudkan dalam Rasa persaudaraan yang sangat kuat, sehingga menyebabkan perekonomian mereka tetap "baik-baik saja" bahkan dikategorikan terus tumbuh saat gejolak politik sedang  berlangsung di negara mereka.

Hal ini tentu sangat berbeda jauh dengan kondisi negara tercinta ini, saat gejolak politik berlangsung kondisi perekonomian kita menjadi sangat mengenaskan, inflasi,, pengangguran dan pertumbuhan ekonomi semua diluar batas kewajaran.

Mengapa bisa seperti itu?? Apakah salah pemerintah? tentu jawabannya "tidak" kesalahannya terletak pada pola pikir yang tertanam di diri kita. Pola pikir yang hanya mengartikan rasa cinta tanah air dengan mampu menghafal teks Pancasila tanpa paham maknanya apalagi penerapan nya, ikut pawai budaya tanpa paham arti bhinneka tunggal Ika secara pragmatis, ikut memasang bendera tanpa paham maknanya, dan hal-hal lain yang mengartikan rasa cinta tanah air dengan cara yang salah.

Kesimpulan akhirnya,  ternyata salah satu  penyebab kondisi keterpurukan negara kita saat ini dikarenakan kesalahan pola  pikir dari kita semua. Karenanya Mari kita benahi negara ini dengan  memperbaiki pola pikir kita terhadap rasa cinta tanah air. Salah satu wujud Cinta tanah air adalah dengan saling peduli dengan kondisi saudara senegara.

Pertanyaan akhir "apakah  di usia Indonesia yang sudah cukup sepuh ini, mampukah kita terus berdiri gagah seperti Korea  Selatan Ataukah kita hanya akan menjadi bagian sejarah bagi anak cucu kita. Mari kita renungkan bersama.
Bagikan:
KOMENTAR