Ramadhan Bulan Pendidikan


author photo

2 Jun 2018 - 01.22 WIB


Oleh: Fakhrul Rijal

Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah Swt, niscaya Allah mengampuni dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa melakukan amal ibadah tambahan (sunah) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah Swt, maka ia akan diampuni dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari Muslim).

Banyak para mufassir menyembutkan nama lain untuk bulan Ramadhan diantaranya: syahrul magfirah, syahrul huda, syahrul ibadah, syahrul rahmad, syahrul kareem, syahrul barakah dan bulan ramadhan disebut juga sebagai syahrul tarbiyah atau bulan pendidikan. Pendidikan yang dimaksud sangat luas, menyangkut tarbiyah jasadiyah, tarbiyah fikriyah, dan tarbiyah qalbiyah. Proses pendidikan itu berjalan selama sebulan penuh, dan bagi siapa yang mempu menyelesaikannya dengan baik , maka seseorang itu akan menjadi orang yang bertaqwa.

Bulan Ramadhan sebagai bulan tarbiyah jasadiyah, maka seseorang yang sedang berpuasa tidak diperbolehkan makan, minum, dan melakukan hubungan seksual di siang hari serta hal lain yang membatalkan puasanya. Bukan seperti hari biasa,  seseorang secara bebas dibolehkan melakukan hal itu semua, maka pada saat berpuasa dilarang. Jasad atau raga seseorang yang sedang berpuasa dilatih untuk membatasi kemasukan apapun, termasuk yang halal sekalipun.

Puasa di bulan Ramadhan bisa diibaratkan sebagai sekolah yang ajaran barunya selalu dibuka setiap tahun dengan tujuan pendidikan praktis dalam menyerap nilai-nilai yang paling tinggi. Barangsiapa memasukinya untuk mendapatkan karunia Ilahi, kemudian ia berpuasa sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan, lalu ia dapat melakukan ibadah tambahan sesuai yang telah disyariatkan, maka ia akan lulus dengan menyandang gelar muttaqin. Dengan gelar muttaqin orang akan mendapatkan jaminan ampunan dari Allah Swt dan terbebas dari api neraka. Rasulullah saw menegaskan, "Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah Swt, niscaya Allah mengampuni dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa melakukan amal ibadah tambahan (sunah) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah Swt, maka ia akan diampuni dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari Muslim).

Ramadhan Sebagai Bulan Pendidikan

DR. Raghib As-Sirjani dalam kitabnya 'Ramadhan wa Bina'ul Ummah' mengatakan, ada beberapa sisi pendidikan dalam puasa Ramadhan.

Pertama, Ramadhan mendidik kaum muslimin untuk memenuhi perintah-perintah Allah Swt secara totalitas. Karenanya tidak pantas seorang muslim jika selesai Ramadhan ketika mendengar salah satu hukum Allah Swt  atau mengetahui salah satu hukum Rasulullah saw, ia memperdebatkannya. 

Allah Swt mencintai hamba-hambaNya yang tunduk kepada-Nya tanpa membantah dan menaati-Nya tanpa ada keraguan. Allah Swt menegaskan dalam firman-Nya,"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (QS. Al-Ahzab: 36).

Kedua, Ramadhan mendidik kaum muslimin agar menundukkan syahwatnya. Ketika Ramadhan kaum muslimin dilarang melakukan hal-hal yang pada hakikatnya halal bila dilakukan pada siang hari di selain Ramadhan. Seperti makan, minum, dan berhubungan suami-istri. Karenanya, seseorang yang telah mendapatkan pendidikan Ramadhan, maka ia akan lebih mampu untuk menahan diri dari makanan dan minuman yang tidak jelas asal-usulnya, serta mampu untuk menjaga diri dari pergaulan lawan jenis yang diharamkan. 

Puasa, pada hakikatnya adalah memutus dominasi syahwat. Syahwat bisa kuat dengan makan dan minum, dan syetan selalu datang melalui pintu-pintu syahwat. Maka dengan berpuasa syahwat dapat dipersempit geraknya. Rasulullah SAW bersabda, "Wahai para pemuda barangsiapa yang mampu untuk menikah maka menikahlah, sesungguhnya nikah itu bisa menahan pandangan dan menjaga kemaluan, dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu sesungguhnya bisa mengendalikan syahwat."

Ketiga, Ramadhan mendidik kaum muslimin agar mengendalikan sifat terburu nafsu serta memiliki kesanggupan untuk menahan amarah. Rasulullah saw bersabda, Allah Swt berfirman,"Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Karena, sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Maka, apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, bersuara tidak pantas, dan tidak mau tahu. Lantas jika ada seseorang yang menghinanya atau memeranginya (mengajaknya berkelahi), maka hendaklah ia mengatakan, 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa." (HR. Bukhari Muslim).

Keempat, Ramadhan mendidik kaum muslimin untuk senang berinfak. Ramadhan mampu membentuk jiwa orang yang berpuasa menjadi dermawan dengan memberikan kebaikan kepada orang lain. Rasulullah saw bersabda, "Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan, yaitu ketika Jibril menemuinya. Jibril selalu menemuinya setiap malam bulan Ramadhan, lalu memantau bacaan Al-Qur'an beliau. Pada saat ditemui Jibril, Rasulullah lebih dermawan dengan penuh kebaikan (lebih cepat) daripada angin yang ditiupkan." (HR. Bukhari Muslim).

Kelima, Ramadhan mendidik kaum muslimin agar memiliki rasa persatuan, persaudaraan, dan kasih sayang. Segenap kaum muslimin di seluruh penjuru dunia akan berpuasa pada hari yang sama dan berbuka pada hari yang sama pula. Mereka akan mulai berpuasa pada saat yang sama, ketika fajar, dan berbuka di saat yang sama pula, yaitu ketika maghrib. Ramadhan tidak membedakan antara yang kaya dan miskin, penguasa dan rakyat biasa. Sungguh luar biasa, ada jiwa kebersamaan yang memasuki hati kaum muslimin pada bulan Ramadhan.

Keenam, Ramadhan mendidik kaum muslimin merasakan penderitaan dan kesulitan orang lain. Kaum muslimin merasakan penderitaan lapar dan dahaga untuk waktu tertentu pada siang Ramadhan. Ia merasa lapar dan menderita seperti yang sering dirasakan fakir miskin atau seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim, "Puasa dapat mengingatkan bagaimana rasanya perut keroncongan dan dahaga yang membakar dan sering dirasakan para fakir miskin". Sehingga, di saat ia melihat orang lain serba kekurangan, maka tersentuhlah hatinya untuk berbagi kepada mereka.

Ketujuh, Ramadhan mendidik ketaqwaan dalam hati kaum muslimin. Sebab, tujuan yang ingin dicapai dari ibadah puasa adalah untuk membentuk pribadi-pribadi yang bertakwa, yakni pribadi yang mampu menghadirkan Allah Swt dalam setiap aktivitas dan perilakunya. Dengan kehadiran Allah Swt dalam setiap aktivitas dan perilakunya, maka orang tersebut akan senantiasa terbimbing dari perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya. Setelah sebulan penuh dididik Ramadhan, ilmu pun didapat, maka langkah selanjutnya adalah mengamalkannya di sebelas bulan berikutnya. Islam menginginkan orang yang berilmu mengamalkan ilmunya demi kebaikan diri dan orang lain. Ilmu pada seseorang ibarat sebatang pohon dan amal sebagai buahnya. Perintah belajar dan menuntut ilmu bertujuan meningkatkan kuantitas dan kualitas amal muslim. Dengan amal itu pula, muslim memperoleh kebahagiaan di dunia dan selamat di akhirat.

Ramadhan adalah bukti bahwa kita bisa memberikan tempaan pendidikan kepada anak kita, pendidikan merasakan nasip orang banyak. Merasakan kelaparan orang-orang miskin dan melaratnya status-status sosial yang tidak pernah disentuh oleh pemerintah. Anak menjadi belajar tentang rasa sosial dan kebersamaan. Anak akan memahami bahwa dirinya selama ini adalah orang yang beruntung dalam status sosial. Masih merasakan enaknya makan setiap hari, mendapatkan apa yang diinginkan dengan mudah dan menggunakan barang-barang sesuka hati. Ramadhan memberikan peneguran dengan gambaran sosial yang dilihat seorang anak terhadap lingkungan sosialnya. Toh, masih ada orang yang makannya satukali satu hari, ada juga orang yang membeli baju hanya satu kali satu tahun dan kehidupan ini tidak memberikan kebahagian kepada tetangga kita. Ini adalah pendidikan bagi anak-anak kita dalam bulan ramadhan ini. Semoga Ramadhan tahun ini kita semua dapat meraih titel Taqwa dari Allah Swt. Aminnn

Fakhrul Rijal, MA, Dosen STIS Al-Aziziyah Sabang, Sekjen RADINA Aceh, Peneliti di LSAMA dan Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan PW PERGUNU Aceh
Bagikan:
KOMENTAR