Debat Publik Pijay, Seluruh Jawaban H.Said Mulyadi Lugas dan Jelas Berdasarkan Fakta


author photo

24 Jun 2018 - 10.56 WIB


Pijay --- Disebabkan Ketua KIP Pidie Jaya belum dilantik, maka acara Debat Publik kandidat paslon bupati/wakil bupati Pidie Jaya dipimpin Ilham Saputra, anggota KPU RI. Debat tersebut digelar di aula gedung DPRK Pidie Jaya, Jumat 22/6/2018.

Selain anggota KPU RI Ilham Saputra dan keempat kandidat Pasangan Calon Bupati/Wakil Bupati Pijay plus para timsesnya masing-masing, juga dihadiri Prof. Dr. Ir. Ahmad Humam Hamid, MA dari kalangan akademisi, Rustam Efendi, SE, M.Com (Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Unsyiah sekaligus pengamat ekonomi), dan Syarifah, SH, M.H (aktifis perempuan/LSM Mitra Sejati Perempuan Indonesia (MiSPI), serta DPRK, para SKPK, Ormas, ulama dan tokoh masyarakat, serta ribuan para pendukung paslon yang dikawal ketat oleh 700 personel gabungan Kodim dan Polres.

Keempat pasangan calon bupati/wakil bupati Pidie Jaya periode 2018-2023—no. urut 1, Ir. H.Yusri Yusuf/ Kolonel (Purn) Saifullah, no. urut 2, H.Aiyub Abbas/H.Said Mulyadi, SE, M.Si, no. urut 3, Muhibuddin Husen/H.M.Yusuf Ibrahim dan no. urut 4, Muhammad Yusuf/Ir.H.Anwar Ishak.

Dalam debat tersebut, pihak KPU menyediakan sesi-sesi debat, pertama adalah penyampaian visi dan misi masing-masing pasangan calon, sesi kedua dan ketiga pertanyaan dari para penelis, dan sesi keempat debat antar calon. Sedangkan sesi terakhir merupakan pernyataan penutup dari masing-masing pasangan calon. 

Prof Dr Ir Ahmad Humam Hamid MA mengawali pertanyaan pada pasangan nomor urut 3. Tema yang ditanyakan berkenaan dengan korelasi antara ketersediaan anggaran dengan pembangunan.

"Membangun Pidie Jaya membutuhkan anggaran yang cukup besar. Jika hanya mengandalkan APBK dan bantuan Pemerintah Provinsi Aceh tentulah tidak cukup. Peluangnya adalah bagaimana cara mengambil dana dari pusat melalui APBN sebanyak mungkin, dan langkah-langkah apa yang akan bapak lakukan seandainya bapak terpilih?"Tanya Humam.

"Jika kami terpilih, kami bersama-sama bupati pergi ke Jakarta, menjumpai dan melobi mentri untuk pembangunan Pidie Jaya. Kami akan membangun komunikasi yang baik dengan semua pihak." Jawab H.M.Yusuf Ibrahim yang akrab disapa Kreeh Kroeh.

Rustam Efendi bertanya pada paslon nomor urut 4. Temanya berkenaan tentang pemberdayaan ekonomi masyarakat. "Pendapatan per kapita di Pidie Jaya selama empat tahun naik 4,28 persen. Nah, apa kebijakan bapak nantinya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat lagi ke depan?" Tanya Rustam.

"Untuk meningkatkan pendapatan daerah" kata Anwar Ishak terbata-bata, "kita harus bisa mempersiapkan data-data aset daerah yang tidak termanfaatkan. Kemudian dikembangkan melalui penelitian dan pemberdayaan."

M Yusuf menambahkan, "Kita akan cari orang-orang yang mampu membantu pembangunan Pidie Jaya."

Salah seorang akademis lainnya, Syarifah, SH, M.H, menanyakan pada paslon no urut 2.  Isunya berkaitan dengan pemberdayaan dan keterlibatan perempuan dalam pembangunan.

"Ini pertanyaan klise sebenarnya. Tapi saya ingin bapak menjawab secara kongkrit. Secara kuantitas di dunia, dan termasuk di Pidie Jaya, bahwa jumlah perempuan jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah laki-laki. Bagaimana bapak melihat ini dan bagaimana bapak melibatkan perempuan dalam proses pembangunan di Pidie Jaya ke depan jika bapak terpilih." Tanya Syarifah, SH, M.H.

H.Said Mulyadi yang sapa walet dengan nada bicara yang teratur dan lugas dengan kalimat-kalimat yang jelas mengurai program kongkrit pelibatan perempuan dalam jabatan-jabatan strategis di Pemkab Pidie Jaya. Ia mengetengahkan hal kongkrit yang telah pihaknya lakukan sekaligus mengetengahkan proyeksi pembangunan dengan perspektif kesetaraan gender ke depan.

Walet mengatakan, "Pertama, di bidang pemerintahan. Saat ini ada lima perempuan yang memimpin eselon dua di tingkat pemerintahan kabupaten di Pidie Jaya. Selanjutnya ada beberapa hal yang ingin kita lakukan di tingkat pedesaan. Melalui gebrakan pembangunan yang kita mulai di tingkat pemerintahan desa.
Ke depan, melalui regulasi, baik qanun dan perbup, kami akan mengatur tentang pengalokasian anggaran untuk pemberdayaan perempuan."

Prof. Dr. Ir. Ahmad Humam Hamid MA kembali memperoleh kesempatan untuk bertanya pada para pasangan calon. Kali ini, pertanyaannya diajukan pada paslon nomor urut 1.

"Saya ingin tahu, sejauh mana anda mengetahui tingkat kemiskinan atau apa saja yang anda tahu tentang kemiskinan di Pidie Jaya? Lalu langkah-langkah apa yang akan anda lakukan seandainya anda terpilih untuk mengurangi angka kemiskinan?"

"Pidie Jaya tiga tahun belakangan memiliki angka kemiskinan 21 persen. Angka ini stagnan, karena kami anggap tidak ada upaya-upaya khusus dan tidak ada terobosan dari pihak pemerintah. Disinikah kami akan memberdayakan masyarakat miskin dengan cara memberikan kail, bukan memberi ikan." jawab Ir. H. Yusri Yusuf atau yang akrab disapa Yusri Melon.

Dalam lima tahun belakangan, berdasarkan data BPS Kabupaten Pidie Jaya, tingkat kemiskinan di Pidie Jaya sejak tahun 2013 hingga 2016 terus mengalami penurunan. Dengan kata lain, angka kemiskinan tidak stagnan namun mengalami penurunan.

Pada tahun 2013 tingkat kemiskinan turun dari tahun sebelumnya menjadi 22,70 persen. Selanjutnya pada tahun 2013 sampai 2014 menurun menjadi 21,78 persen dari yang sebelumnya sebanyak 32.590 jiwa masyarakat miskin pada tahun 2013 turun menjadi 31.870 jiwa masyarakat miskin.

Kemudian, pada tahun 2014 sampai 2015 menurun lagi dari jumlah masyarakat miskin yang sebelumnya 31.870 orang menjadi 31.810 orang atau turun menjadi 21,40 persen. Dari 2015 sampai 2016 tingkat kemiskinan turun lagi menjadi 21,18 persen. Diisamping itu, posisi Pidie Jaya lima tahun silam berada pada peringkat kedua kabupaten termiskin di Aceh. Namun, saat ini, kabupaten tersebut berada pada urutan kelima.(IA)
Bagikan:
KOMENTAR