Pemkab Aceh Utara Menangi Sengeketa Lahan Pasar Moderen Krueng Geukueh


author photo

11 Mei 2018 - 23.34 WIB


Dewantara --- Menyusul beredarnya salinan Keputusan Mahkamah Agung (MA) tentang penolakan gugatan Haslindawati, warga gampong Uteun Bayi Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe terhadap status kepemilikan lahan seluas 11.000 meter persegi yang dulunya merupakan lapangan bola kaki sekarang sudah dibangun pasar modern di Keude Krueng Geukueh Kecamatan Dewantara, Aceh Utara.

Muspika Dewantara, Kamis (10/5) langsung mengadakan rapat dan memaparkan tentang keputusan MA terhadap sengketa lahan lokasi pasar moderen yang dimenagkan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Sekalian membahan rencana pemindahan pedagang hari pekan kelokasi tersebut bersama Mukim dan Geusyik Keude Krueng Geukueh.  

Camat Dewantara Fadli Dakuta yang memimpin rapat mendadak itu selain membahas rencana pemindahan pedagang juga akan melakukan penertiban pedagang kaki lima, parkir liar dan becak yang dalam beberapa tahun terakhir terlihat wajah Keude Krung  Geukueh begitu sembrawut dan jorok.

Dalam rapat yang yang berlangsung di kantor Mukim Krueng Geukueh juga dihadiri, Haria Pasar, Penata Parkir dan kalangan Persatuan Becak diputuskan, semua agenda rapat yang dibahas ini akan dilaksanakan usai Aidul Fitri 1439 H. Kecuali lokasi memotong hewan (meugang) serta pasar daging akan langsung dilakukan di areal  pasar modern.

Terhadap rencana pemindahan, pengaturan pedagang kaki lima serta penertiban pasar banyak yang menilai sangat rumit ditandai dari beberapa kali yang sudah dilakukan selalu gagal. Namun Camat dalam rapat itu coba memaparkan beberapa konsep. Diantaranya, sebelum penertiban dilakukan sosialisasi dulu.

Menurut Camat, walau dalam penertiban nantinya akan dilibatkan aparat Kepolisian, Koramil dan Satpol PP sebelumnya sosialisasi dulu. Kalau misalnya ada yang membandel juga jangan dulu diambil tindakan semisal merobohkan atau mengankut paksa kiosnya tapi diberi peringatan dan batas waktu tidak boleh lagi berjualan ditempat yang dilarang.

Sementara terhadap riwayat sengketa lahan lapangan bola kaki Krueng Geukueh dan Pasar Modern yang dibanguna pemerintah menurut beberpa tokoh masyarakat Dewantara tidak ada yang menyangka kalau lahan tersebut ada pemiliknya. Pasalnya sudah hampir 100 tahun tidak ada yang mengklaim kalau lapangan itu ada pemiliknya..

Hingga Pengadilan Negeri Lhoksukon dalam sisang yang digelar Desember 2015 langsung memutuskan menolak seluruh materi gugatan yang diajukan Haslindawati. Karena bukti bukti yang yang diperlihatkan meragukan.

Haslinda tidak terima keptusan PN Lhoksukon lalu banding ke Pengadilan Tinggi Banda Aceh dan secara mengejutkan PT Banda Aceh dalam sidang yang digelar pada 3 Oktober2016 mengabulkan gugatan Haslinda. Haslindapun sangat bersykur atas keptusan itu. "Alhamdulillah, kebenaran tetap berpihak kepada yang benar", ujar Haslinda.

Mendengar keputusan tersebut, Pemkab Aceh Utara mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung dan dalam sidang yang digelar pada 30 Mai 2017 MA memutuskan, perkara kasasi perdata tersebut dimenagkan oleh Pemerintah yang tertuang dalam amar keptusan Nomor 914 K/PDT/2017. (Ucr)

 

Foto : Rapat Muspika



Bagikan:
KOMENTAR