Warung Kopi di Kota Banda Aceh dari Sudut Pandang Psikologi


author photo

27 Apr 2018 - 13.04 WIB


Oleh : Cut Almira Islamey 

Banda Aceh dikenal dengan julukan kota seribu satu warung kopi. Julukan ini diberikan karena banyaknya jumlah warung kopi yang dapat ditemukan di sepanjang jalan raya hingga lorong kecil di setiap penjuru kota ini. 
Berbagai kalangan mulai dari orang dewasa, remaja bahkan anak-anak juga menjadi pengunjung warung kopi. Tidak hanya sekedar menikmati kopi,pengunjung disana juga dapat menikmati makanan yang tersedia, menggunakan fasilitas internet, mengerjakan tugas maupun berdiskusi mengenai berbagai topik seperti politik,ekonomi maupun persoalan yang sedang hangat di masyarakat. 

Semakin menjamurnya warung kopi di Banda Aceh membuat pengusaha warung kopi berlomba-lomba untuk menarik pelanggan, baik dengan desain  yang mewah, unik, menu makanan yang beragam, maupun dengan fasilitas lengkap yang ditawarkan. 

Dalam sudut pandang psikologi, terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskan  alasan orang untuk berkunjung ke warung kopi. Menurut teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow, manusia berusaha untuk mencapai kesehatan psikologis yaitu aktualisasi diri, dengan memenuhi kebutuhannya mulai dari hierarki terbawah yaitu kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta dan keberadaan, penghargaan dan pencapaian akan aktualisasi diri. 
Kebutuhan akan cinta dan keberadaan serta penghargaan dapat dipenuhi dengan berteman dengan orang lain dan menjadi bagian dari suatu perkumpulan maupun lingkungan masyarakat, salah satunya  dengan berkumpul di warung kopi baik dengan kerabat  maupun relasi bisnis.
Mengapa orang betah berlama-lama di warung kopi? Mengapa orang ketagihan untuk berkunjung ke warung kopi? Menurut teori belajar tingkah laku dari B.F Skinner seseorang akan meningkatkan frekuensi perilaku apabila perilaku tersebut mendapat penguatan.  

Dalam hal ini, seseorang akan betah berlama-lama dan kembali berkunjung ke warung kopi karena penguatan yang disajikan oleh pemilik warung kopi,  seperti kopi yang nikmat, fasilitas internet yang cepat, suasana yang nyaman, dan pelayanan yang baik.
 
Jadi, mengunjungi warung kopi dapat menjadi sarana mencapai kesehatan psikologis yaitu aktualisasi diri. Tentunya dengan tidak berlebihan dan tidak sampai melupakan kewajiban-kewajiban kita sebagai individu, anggota masyarakat terlebih sebagai makhluk beragama.
Bagikan:
KOMENTAR