Temen Temen Mahasiswa Cacing Kok Diributin Sih


author photo

4 Apr 2018 - 13.37 WIB


(```Elisa Danur```)

Dewasa ini, kalangan mahasiswa, masyarakat diresahkan dengan isu cacing berprotein. Bahkan tidak jarang dari beberapa mahasiswa angkat bicara, yang memperdebatkan soal cacing ini. Hingga menjadi provokasi dengan menulis kritikan yang meresahkan masyarakat luas. 

Seharusnya sebagai intelektual muda bekerjasama saling membahu dalam disiplin ilmu, saling berbagi. Kenapa tidak berkompeten untuk mencari tahu kebenaran apa yanga ada dalam kandungan cacing? 

Inilah generasi micin, sesuatu yang dianggapnya buruk langsung dikritik, ditulis dan dimuat media tujuannya bukan benar - benar peduli tapi hanya untuk membrandingkan diri bahwa kita adalah pribadi dengan cara berpikir kritis, seharusnya kalau kita beneran kritis kebenaran dan kejernihan berpikir, serta think out of the box itu mutlak penting. 

Buat media komersiil ini merupakan kesempatan mereka untuk memanaskan isu. Ada sebagian mahasiswa malu karena statement yang intinya cacing itu berprotein. Padahal bila kita ingin menganalisa dan mencari tahu kebenarannya dari sebagian jurnal atau kalau memang kurang yakin dengam argument saya ini silakan melakukan analisa ANOVA, analisa kadar protein. 

Dari beberapa referensi ikan memiliki 50% kadar protein, daging 65% dan cacing 76%. Jadi apa salahnya dengan si cacing. Oh, karena untuk konsumsi. 

Saya ingin memberitahu bahwa banyak dari khalayak masyarakat Aceh memanfaat cacing tanah sebagai obat. Mungkin menjijikkan, tentu. Bagi saya juga menjijikkan tapi bagi sebagian orang itu dijadikan obat, baik itu untuk hipertensi, penyakit yang berhubungan dengan pencernaan dan perut, penyakit yang berhubungan dengan pernapasan, typus, diabetes melitus dan lain-lain. (itu manfaat cacing tanah). Apalagi kalau misalnya (kabarnya) cacing dari ikan karawel, dalam sebuah dalil intinya bahwa seluruh hewan yang dari laut darah dan bangkainya halal untuk dimakan. 

Kalaupun itu cacing dari dalam ikan karawel otomatis halal dimakan tergantung mau dimakan atau tidak. So, jangan menjadi provokator hanya karena cacing teman-teman mahasiswa. Kalo ada terdapat didalam kemasan kaleng, bercampur dengan ikan misalnya kalau menjijikkan buang tapi kalau tidak menjijikkan yah silakan dikonsumsi. Layaknya seseorang yang alergi, apabila alergi jangan dimakan, bila tak alergi yah tak masalah. Jangan membesar-besarkan masalah yang kecil. 

Permasalahan negeri ini begitu kompleks dan rumit, masa sih yang menjadi perhatianmu hanya cacing. Harusnya ini dijadikan inovasi baru untuk memajukan Indonesia, mungkin bagi sebagian orang menjijikkan tapi tak sedikit diluar sana yang mengonsumsinya.

Ada sebagian merasa malu bagaimana kalau sampai luar negeri tahu. Oh, ayolaa teman-temanku, singapura dan kamboja melakukan hal yang luar biasa. Dimana mereka telah melakukan pemfilteran air yang mana air tersebut malamnya adalah air limbah dan paginya di konsumsi. 

Singapura merupakan negara yang kurang SDA tetapi kaya SDM. Sehingga untuk memperoleh air yang langsung bisa diminum itu secepat mungkin diolah kembali. Belum lagi kamboja negara yang terkenal dengan air limbah, mereka membuat gerabah untuk menjernihkan air, untuk dikonsumsi. Lantas hanya cacing kok begitu dipermasalahkan yah, bahkan bekicot pun sudaa dijadikan bumbu peyedap rasa. 

Jadi mulai sekarang mari sama sama kita membuka cakrawala berpikir kita. Di negeri ini banyak isu isu yang begitu rumit, banyak permasalahan yang begitu sulit dikaji, jadi jangan membuang-buang waktumu hanya untuk mengomentari soal *cacing punya protein jadi layak dikonsumsi*. 

Karena diluar itu kita punya isu yang lebih penting yang bahkan isu itu mampu mempersulit kehidupan kita, misalkan isu revitalisasi KEK Arun, isu mengenai AMDAL, isu mengenai kenaikan harga BBM mungkin, lebih berfaedah dikaji dibandingkan kandungan cacing.

===
Elisa Danur adalah Mahasiswi dari jurusan teknik kimia program studi sarjana terapan teknologi kimia industri semester 8, sekarang aktif sebagai ketua divisi sosial SPMA dan pengawas pers mahasiswa lintas polinel.
Bagikan:
KOMENTAR