Sekolah Ku Malang Murid Ku Sayang


author photo

7 Apr 2018 - 13.34 WIB


Aceh Tamiang [] Radaraceh.com _ Malang tak dapat diraih untung tak dapat dibeli. Beginilah yang dirasakan murid–murid Madrasah Aliyah Al-Ikhlas Tanah Terban Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang sehari –harinya. 

Madrasah yang sudah berdiri 5 tahun lalu jauh dari perhatian dan pandangan dari Pemerintah setempat. Dikisahkan, proses belajar mengajar mereka sangat miris bila kita melihat lebih jauh kedalam. Beratapkan langit beralasakan semen.

Itulah potret dan pandangan sehari hari mereka dalam menempuh dan meraih pendidikan guna menyongsong masa depan yang penuh dengan ilmu pengetahuan dan mencetak generasi -  generasi yang tangguh. Namun apa yang mereka terima sekarang? Lima tahun masa yang sangat panjang menunggu perhatian dan sentuhan dari Pemerintah setempat. Namun apa endak dikata? Bagaikan gajah dipelupuk mata tidak kelihatan, kutu diseberang lautan nampak bergerak gerak.

Madrasah Aliyah Al-Ikhlas Tanah Terban Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang yang terletak tidak jauh dari Pusat Pemerintahan Kabupaten, lebih kurang 1 kilometer persis di badan jalan lintas Negara Medan Banda Aceh memiliki 90 orang siswa / siswi, 3 ruang (lokal) berdiri kokoh hingga sekarang. 1 ruang dipakai sebagai aktifitas Dewan Guru dan Kepala Sekolah, 2 ruang sebagai tempat proses belajar mengajar.

Melirik dari sejarah dan latar belakang Madrasah, Kehadiran madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam di Indonesia merupakan simbiosis mutualistis antara masyarakat Muslim dan madrasah itu sendiri. Secara historis kelahiran madrasah tidak bisa dilepaskan dari peran / partisipasi masyarakat terhadap dunia pendidikan. 

Pendidikan Madrasah di Indonesia yang lahir pada awal abad ke-20 dengan munculnya Madrasah Mambaul Ulum di Keraton Surakarta tahun 1905 dan Sekolah Adabiyah yang didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad di Sumatera Barat tahun 1909. Madrasah berdiri ini atas inisiatif dan realisasi dari pembaharuan Islam yang telah ada, yakni antara pengaruh pembaharuan Islam di Timur Tengah, pendidikan Barat dan tradisi pendidikan Islam di Indonesia (baca pesantren). 

Pembaharuan tersebut meliputi tiga hal, yaitu : usaha penyempurnaan sistem pendidikan pesantren, penyesuaian dengan sistem pendidikan Barat, dan menjembatani antara sistem pendidikan tradisional pesantren dan sistem pendidikan Barat. 

Dengan kata lain, munculnya sistem pendidikan madrasah juga merupakan respon atas kebijakan dan politik pendidikan Hindia Belanda pada saat itu. Politik pendidikan Hindia Belanda yakni dengan membuka lebih luas kesempatan pendidikan bagi penduduk pribumi, yang semula hanya terbatas pada kaum bangsawan, disamping merupakan politik etik, balas budi, juga merupakan salah satu usaha pemerintah Hindia Belanda untuk menundukkan masyarakat pribumi melalui jalur pendidikan.

Ironis bila Pendidikan "Madrasah" ditinggalkan begitu saja, bila dikaitkan dengan Undang – undang Syariat Islam di Aceh sangatlah punya peranan penting sebagai dasar atau pondasi agama untuk bekal dunia dan akhirat. Ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan tidak boleh memandang sebelah mata terhadap dunia pendidikan "Madrasah" yang nota benenya sebagai pendidikan paling dasar (basic aducation) menuju akhirat. Dunia pendidikan sekolah umum boleh memiliki dasar – dasar kependidikan yang khusus (formal), namun harus diingat bahwa, sekolah "Madrasah" ujung tombak untuk mengikis peradaban – peradaban tekhnologi yang modern sekarang ini.

Persepsi masyarakat terhadap madrasah di era modern belakangan semakin menjadikan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang unik. Di saat ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, di saat filsafat hidup manusia modern mengalami krisis keagamaan dan di saat perdagangan bebas dunia makin mendekati pintu gerbangnya, keberadaan madrasah tampak makin dibutuhkan orang.

Terlepas dari berbagai problema yang dihadapi, baik yang berasal dari dalam sistem seperti masalah manajemen, kualitas input dan kondisi sarana prasarananya, maupun dari luar sistem seperti persyaratan akreditasi yang kaku dan aturan-aturan lain yang menimbulkan kesan madrasah sebagai 'sapi perah', madrasah yang memiliki karakteristik khas yang tidak dimiliki oleh model pendidikan lainnya itu menjadi salah satu tumpuan harapan bagi manusia modern untuk mengatasi keringnya hati dari nuansa keagamaan dan menghindarkan diri dari fenomena demoralisasi dan dehumanisasi yang semakin merajalela seiring dengan kemajuan peradaban teknologi dan materi. 

Sebagai jembatan antara model pendidikan pesantren dan model pendidikan sekolah, madrasah menjadi sangat fleksibel diakomodasikan dalam berbagai lingkungan. Di lingkungan pesantren, madrasah bukanlah barang yang asing, karena memang lahirnya madrasah merupakan inovasi model pendidikan pesantren. Dengan kurikulum yang disusun rapi, para santri lebih mudah mengetahui sampai di mana tingkat penguasaan materi yang dipelajari. 

Dengan metode pengajaran modern yang disertai audio visual aids, kesan kumuh, jorok, ortodok, dan exclusive yang selama itu melekat pada pesantren sedikit demi sedikit terkikis. Masyarakat metropolit makin tidak malu mendatangi dan bahkan memasukkan putra-putrinya ke pesantren dengan model pendidikan madrasah. Baik mereka yang sekedar berniat menempatkan putra-putrinya pada lingkungan yang baik (agamis) hingga yang benar-benar menguasai ilmu yang dikembangkan di pesantren tersebut, orang makin berebut untuk mendapatkan fasilitas di sana.

Realitas menunjukkan bahwa praktek pendidikan nasional dengan kurikulum yang dibuat dan disusun sedemikian rupa bahkan telah disempurnakan berkali-kali, tidak hanya gagal menampilkan sosok manusia Indonesia dengan kepribadian utuh, bahkan membayangkan realisasinya saja terasa sulit. 

Pendidikan umum (non madrasah) yang menjadi anak emas pemerintah, di bawah naungan Depdiknas, telah gagal menunjukkan kemuliaan jati dirinya selama lebih dari tiga dekade. Misi pendidikan yang ingin melahirkan manusia-manusia cerdas yang menguasai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kekuatan iman dan taqwa plus budi pekerti luhur, masih tetap berada pada tataran ideal yang tertulis dalam susunan cita-cita (perundang-undangan). Tampaknya hal ini merupakan salah satu indikator dimana pemerintah kemudian mengakui keberadaan madrasah sebagian dari sistem pendidikan nasional.

Hal diatas sangat bertolak belakang dan berbeda, Madrasah Aliyah Al-Ikhlas Tanah Terban Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang yang sudah 5 tahun berdiri hanya memiliki 2 ruang sebagai aktifitas belajar mengajar. Satu ruang di sekat dengan menggunakan triplek seadanya sebagai pembatas. Sudah 1 tahun belakangan ini, mereka "Madrasah" belajar diluar ruangan. Itupun disebabkan kakak kelas yang sedang menghadapi Ujian Nasional (UN), mereka adik kelas belajar di luar ruangan.

Belum lagi dihadapkan dengan berbagai kebutuhan yang mendesak, seperti tempat buang air kecil dan besar. Mereka "Madrasah" terpaksa memakai kamar kecil (MCK) masjid desa yang tidak jauh dari Madrasah tersebut apalagi disaat musim penghujan datang mereka "Madrasah" sangat kewalahan, sehingga berlarian mencari tempat berteduh. Belum lagi para tenaga pengajar berjumlah ….. yang sudah lama menikmati status guru baktinya di Madrasah Aliyah Al-Ikhlas Tanah Terban.[] MT. Zf
Bagikan:
KOMENTAR