Penjajahan Yang Abstrak


author photo

6 Apr 2018 - 13.50 WIB


Indonesia adalah Negara yang besar, Negara yang kaya akan budaya. Indonesia juga Negara yang mempunyai jumlah penduduk yang sangat besar. Jika indonesia mampu menanfaatkan semua kekayaan di sekala bidang ini, bukan hal yang tidak mungkin , indonesia akan menduduki pringkan utama bisnis dunia. Di tambah lagi penduduk indonesia kebanyakan berumur 30 tahun kebawah yang dapat kita artikan bawa indonesia mempunyai tega kerja yang besar.

Berbicara tentang indonesia, kita juga tidak lepas dari perjuangan akan kemajuan Negara yang semakin hari semakin baik, karena dengan dorongan teknologi yang semakin maju, indonesia terus berbenah . contoh gedung-gedung semakin tinggi, pembangunan semakin meluas, listrik semakin luar jangkauannya, walaupun masih banyak daerah yang merasa belum menikmati kemerdekaan yang sesungguhnya yang sepatutnya mereka dapatkan.

Pada era abad ke-21 ini, sekarang timbul pertanyaan apakah indonesia sudah melakukan keadilan bagi rakyatnya? apakah semua yang sudah di bangun itu untuk rakyatnaya ?. jawaban Cuma mari melihat dan mari pelajari akan Negara yang kita cintai ini.

Ini bukan sebuah kebohongan, bahwa sanya sekarang ini indonesia berada di ujung tanduk nya kehancuran. Kenapa bisa begitu. Karena kita sudah menyaksikan problematika di negeri ini, hasil bumi indonesia bukan di nikmati oleh rakyat indonesia yang seharusnya  itu sudah menjadi hak kita sebagai warga Negara.

Prof. Dr. H. Amien Rais pernah mengatakan bahwa " 74% tanah indonesia di miliki oleh segelintir orang, di sini Putra Amien Rais sekaligus ketua umun PAN, Hanafi Rais menyatakan bahwa data tersebut berdasarkan data bank dunia pada 15 desember 2015. Memang dalam pernyataan Amien Rais tersebut ada yang mengatakan itu hanya hoax semata. Tetapi bukan hanya Amien Rais saja yang menyatakan hal tersebut tapi Mantan Komnas HAM , Hafid Abbas menyampaikan hal yang sama seperti pernyataan Amien Rais tersebut bahwa, 74% tanah indonesia dimiliki oleh 0,2% penduduk.

Dari pernyataan di atas juga di mereka menyebutkan bahwa sebagian orang yang mempunyai tanah itu adalah dari keturunan Tionghoa (cina), kemudian dari sini kita bertanya, kenapa tanah kita bukan kita yang mengelola ?, ini menjadi tanda Tanya besar bagi kita warga Negara indonesia ini, bukan tidak mungkin pada beberapa tahun kedepan Negara kita akan di kuasai penuh oleh orang asing kusus nya orang Tionghoa, dimana peran kita sebagai penduduk pribumi. Maka dari itu dapat kita katakan bahwa ada proses penjajahan yang terjadi di negeri ini, tetapi berkedok politik dan penguasaan, atau saya dapat menyebut itu sebagai "PENJAJAHAN YANG ABSTRAK" atau penjajahan yang tak nampak.

Sekarang juga kita sudah melihat akan, problematiaka negeri yang semakin menjadi-jadi, beberapa tahun belakangan ini kita sudah melihat akan peranan pribumi yang semakin di kucilkan, penghargaan untuk sebagian besar rakyat terasa di remehkan oleh segelintir orang, contoh nya saja kasus yang baru-baru ini terjadi oleh, Ibuk Sukmawati Suekarno Putri dalam puisinya "Ibu Indonesia" yang ia bacakan pada acara, 29 tahun Anne Evantie berkarya di ajang Fashion Week 2018, yang sangat menggegerkan Ummat, terutama pada ummat islam pada khusus nya. Dalam puisi "Ibu Indonesia" ini terdapat kata-kata yang di rasa ummat menghina islam, yang sama-sama sudah kita ketahui.

Disini kita dapat mengambil pelajaran bahwa Ibuk Sukmawati tidak memikirkan bahwa nantinya puisinya itu akan meresakan rakyat indonesia, yang menjadi mayoritas di negeri ini. Ini menjadi tolak ukur saya bahwa ia dapat saya katakan orang yang berpendidikan dan bedaya nalar yang tinggi, tidak mampu befikir akan akibat yang ia lakukan dengan puisinya ini, padahal ia adalah bagian dari islam itu sendiri tapi ia menyindir tentang syariat islam yakni, cadar, hijab, dan suara azan.

Dari beberapa waktu sebelumnya juga terjadi tentang penistaan oleh Bapak Basuki Tjahaja Purnama, yang menyinggung tentang ayat Al-Qur'an, dan telah membodohi ummat, dari dua kasus ini saja kita dapat menyimpulkan bahwa semakin lama Rakyat Indonesia yang mayoritas ummat islam merasa tak di hargai dengan tingkah laku segelintir orang. Kita harus melakukan perubahan untuk negeri ini, jangan sampai kita menjadi budak di negeri sendiri.

Saya menghimbau kepada pembaca akan pentingnya mempunyai sifat Nasionalisme, yang dengan itu kita akan merasa bertanggung jawab terhadap kemajuan dan perkembangan di segala sector negeri ini. Kita tidak boleh acuh tak acuh terhadap setiap problematiak yang terjadi di negeri ini, kita harus mengambil peran dalam setiap problem tersebut. Karena kalau bukan kita yang memikirkan negeri ini, terus siapa lagi ?. kalau bukan sekarang kapan lagi ?

Bukan hanya dengan berkoar-koar di belakang tapi kita harus mengimplementasikan apa yang kita inginkan itu, jika itu memang benar katakanlah benar, jika salah katakana lah salah. Agar kita termasuk orang-orang yang beriman karena makna Iman yang sebenarnya mengakui dengan lisan dan implementasikan dengan perbuatan. Semoga kita menjadi ummat yang selamat dunia dan akhirat kelaknya.

==
Arlis Setiawan adalah Alumni Sekolah Pemimpin Muda Aceh (SPMA) di Medan. Saat ini sebagai mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikan kuliah di UINSU, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Bimbingan Konseling Islam. Putra Aceh, asal kabupaten simeulue, kecamatan simeulue cut, desa latak ayah.
Bagikan:
KOMENTAR