Kidal, Apakah Berbahaya?


author photo

26 Apr 2018 - 11.03 WIB


Oleh : Syifa Nabila Hasbi

Hari kidal internasional diperingati setiap tanggal 13 Agustus. Hal ini membuktikan bahwa kidal menjadi pusat perhatian di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Banyak masyarakat yang masih menganggap kidal sebagai suatu kelainan yang harus disembuhkan dengan berbagai macam cara, bahkan dengan memberikan hukuman dan aturan-aturan lainnya yang sangat mengikat. Tidak sedikit orang dengan kondisi tangan kidal menjadi bahan bullying, dan diskriminasi. Lalu, bagaimana kita seharusnya menyikapi seseorang dengan kondisi tangan yang kidal?

Kidal adalah kondisi dimana seseorang cenderung untuk lebih aktif menggunakan tangan sebelah kirinya dibandingkan tangan sebelah kanan. Penyebab kidal belum diketahui secara pasti. Namun, terdapat dua faktor yang dapat menyebabkan seseorang menjadi kidal, yaitu nature (bawaan lahir) dan nurture (pengasuhan). 
Otak manusia memiliki dua bagian, yaitu otak sebelah kiri dan sebelah kanan. Otak bagian kiri mengatur pergerakan dominan dari bagian kanan tubuh kita, dan otak bagian kanan mengatur pergerakan dominan dari bagian kiri tubuh. Anak dengan tangan yang kidal sejak lahir disebabkan oleh otak kanannya yang lebih dominan daripada otak kiri. Maka dari itu, seseorang yang kidal lebih dominan dan aktif menggunakan tangan kiri nya untuk melakukan berbagai kegiatan seperti menulis, menggambar, menyapu dan kegiatan lainnya. 

Kondisi tangan yang kidal ini dapat pula bersifat turunan, seperti ada keluarga dengan riwayat kidal sebelumnya.  Namun tidak bisa dikatakan bahwa faktor turunan ini menjadi penyebab utama seseorang menjadi kidal. Terdapat sebuah riset pada tahun 1998 oleh James McDevitt dari Universitas Oklahoma yang memaparkan bahwa apabila kedua orang tua nya kidal, hanya 26% kemungkinan dari anak-anak mereka menjadi kidal juga. 

Selain faktor bawaan lahir, pola pengasuhan dari orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan seseorang akan cenderung kidal atau tidak. Terutama pada anak yang masih kecil, mereka akan cenderung untuk mengikuti kebiasaan dari orang tua atau orang terdekatnya. Menurut seorang tokoh psikologi yaitu Albert Bandura, dalam proses belajar seseorang, akan ada proses yang dinamakan modelling, yaitu meniru apa yang orang lain lakukan dan melibatkan proses kognitif didalamnya. Jika seorang anak melihat orang tua atau orang terdekatnya melakukan berbagai kegiatan dengan menggunakan tangan kiri yang lebih dominan, maka anak tersebut akan cenderung meniru hal tersebut. 

Pola pengasuhan lainnya yang memungkinkan seorang anak menjadi kidal adalah ketika masa kecilnya ia berhasil untuk melakukan sesuatu, seperti mengambil mainan dengan tangan kirinya dan memegang tanpa bantuan dari orang tuanya, kemudian orang tua nya memberikan respon dengan memberikan pujian, anak tersebut akan memperkuat perilakunya, yaitu terus-menerus akan mengambil sesuatu dengan tangan kirinya. Menurut teori dari B.F. Skinner, seorang tokoh psikologi, hal ini disebut dengan pengondisian operan. 

Sebenarnya, tanda seseorang cenderung kidal atau tidak, dapat dikenali sejak kecil. Orang tua harus memperhatikan dengan detail setiap perkembangan anaknya. Semakin aktif seorang anak dalam mengeksplorasi segala hal menggunakan tangan nya, semakin terlihat bahwa anak tersebut kidal atau tidak. Dapat di lihat dengan tangan sebelah mana anak tersebut mengambil mainan, makanan, menyisir rambutnya, dan kegiatan lainnya. Biasanya refleks tangan kiri seseorang yang kidal akan lebih cepat dibandingkan tangan sebelah kanannya.

Jika anak tersebut memang lebih dominan menggunakan tangan kirinya, jangan memaksa anak untuk langsung menggunakan tangan kanannya, apalagi dengan cara memaksa dan memarahinya. Banyak kasus dimana orang tua yang memaksakan anak dan juga pengajar di sekolah yang memberikan hukuman kepada siswanya apabila mereka melakukan sesuatu seperti menulis dengan menggunakan tangan sebelah kiri. Bila anak yang kidal dipaksakan menggunakan tangan kanan, efeknya justru akan tidak baik untuk anak tersebut, baik secara psikologis maupun secara akademiknya. Anak tersebut akan menjadi lebih emosional, tidak percaya diri, menutup diri, aktivitas otak sebelah kanannya akan terhambat, terganggu ingatan dan konsentrasinya, bahkan mengalami gangguan bicara seperti gagap, dan kesulitan membaca (disleksia). 

Hal yang seharusnya dilakukan pertama kali adalah orang tua harus dapat menerima kondisi sang anak yang kidal. Karena pada kenyataannya, penggunaan tangan kanan dan kiri dapat dilatih. Cara yang paling efektif adalah dengan meletakkan benda-benda yang biasa ia pegang ke tengah. Sehingga anak tersebut akan berusaha meraihnya dengan tangan kanan nya. Komunikasi yang baik, dua arah dan secara empat mata juga sangat penting dalam proses anak belajar menggunakan tangan kanan nya untuk melakukan berbagai kegiatan. 

Gunakan bahasa yang baik, mudah dimengerti dan jangan menggunakan nada yang tinggi seperti membentak, karena hal itu hanya akan membuat anak tertekan dan tidak mau untuk belajar menggunakan tangan kanan nya. Pemberian hadiah dan pujian pun diperlukan sebagai penguat saat anak bisa melakukan sesuatu menggunakan tangan kanan nya. Namun, agar perubahan penggunaan tangan kiri ke kanan menjadi lebih efektif, lakukan perubahan tersebut sebelum anak mencapai usia 6 tahun.

Cara selanjutnya adalah dengan memberikan pemahaman mengenai pandangan islam tentang penggunaan tangan kiri dan tangan kanan. 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha menceritakan : "Bahwa tangan kanan Rasulullah dipergunakan dalam bersuci dan makan. Adapun tangan kiri, dipakai untuk membersihkan bekas kotoran dari buang hajat dan perkara-perkara yang najis". 

Menurut ajaran Rasulullah, masing-masing tangan memiliki tugas tersendiri. Memang, tangan kiri kadang ditugaskan untuk menangani yang kotor-kotor atau najis sedangkan tangan kanan untuk yang baik-baik. Namun, bukan berarti bahwa tangan kiri adalah tangan yang jorok, kotor atau tidak baik. Berikan pemahaman pada anak, bahwa tangan adalah ciptaan Allah, maka keduanya sesungguhnya memiliki peran yang baik. Tangan kanan telah diberi tugas untuk melakukan hal seperti makan dan lain sebagainya yang merupakan sebuah kebaikan dan tangan kiri pun memiliki tugas untuk membersihkan dari yang kotor-kotor (bersuci dari najis) yang juga merupakan sebuah kebaikan. 

Aisyah mengisahkan tentang Rasulullah, bahwa,  "Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam suka mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir, bersuci, dan dalam semua urusannya." Hal ini dapat dijadikan sebagai pedoman untuk memberikan pemahaman bagi seseorang yang kidal, bahwa Rasulullah merupakan suri tauladan atau contoh dalam kita melakukan berbagai hal. Sebagai ummatnya, kita harus mengikuti ajaran nya karena segala hal yang diajarkan oleh Rasulullah adalah ajaran untuk kebaikan. 
Jika tangan kanan seseorang memang tidak bisa berfungsi dengan baik karena mengalami kecacatan fisik, maka menggunakan tangan kiri tentu diperbolehkan. Tetapi, jika tangan kanan seseorang tidak mengalami kecacatan apapun, ia pasti bisa untuk belajar menggunakan tangan kanan nya dalam melakukan berbagai hal. Maka, sebenarnya kidal bukanlah suatu kecacatan atau kelainan, melainkan seseorang itu tidak terbiasa dalam menggunakan tangan kanannya dan kondisi ini dapat diubah dengan cara membiasakannya. 
Bagikan:
KOMENTAR