HUT Tamiang, Euphoria Pers Dan Harapan


author photo

9 Apr 2018 - 12.29 WIB


Aceh Tamiang [] Radaraceh.com


   • Kilas Balik Sejarah

Memaknai hari ulang tahun atau hari lahir adalah hari dimana seseorang atau sebuah bangsa dilahirkan dan/atau diproklamirkan pertama kali. 

Sementara hari jadi adalah dimana sebuah daerah atau bangsa mengenal jati dirinya sebagai sebuah bangsa dalam fase kejayaan. Kalau hari jadi merupakan saat dimulainya suatu daerah mengalami fase kejayaan, maka masa kejayaan Tamiang (dibawah pimpinan seorang Raja Muda Setia yang memerintah selama tahun 1330 – 1366 M). 

Pada masa kerajaan tersebut wilayah Tamiang dibatasi oleh daerah-daerah : Sungai Raya / Selat Malaka di bagian Utara, Besitang di bagian Selatan, Selat Malaka di bagianTimur, Gunung Segama ( gunung Bendahara / Wilhelmina   Gebergte ) di bagian Barat. 

Sejarah menjelaskan bahwa bukti adanya Negeri Tamiang berdasarkan sumber dari data-data sejarah, seperti dalam Prasasti Sriwijaya, buku Wee Pei Shih yang mencatat Negeri Kan Pei Chiang (Tamiang), dan buku Nagarakretagama yang menyebut "Tumihang", serta benda-benda peninggalan budaya yang terdapat pada situs Tamiang.  

Tamiang saat ini adalah sebuah kabupaten yang terletak antara kabupaten Aceh Timur dan perbatasan Aceh-Sumut. Daerah Tamiang memiliki legenda asal mula nama Tamiang yang terdiri dari beberapa versi (Iskandar Norman). Versi I, menurut cerita lisan yang turun temurun dari masyarakat tamiang menyatakan bahwa asal mula Tamiang berasal dari kata da mitang dan te minyang. Dua kata tersebut bermakna sama, yaitu kebal dari penyakit gatal yang diakibatkan Miang pohon bambu. Konon, kata tersebut diambil dari kisah raja Tamiang bernama Pucok Suloh yang sewaktu bayi ditemukan dalam perdu bambu. Ketika dia memerintah menjadi raja digelar Pucok Suloh Raja Te-miang. 

Raja yang masa kecilnya kebal terhadap gatal miang bambu. Versi II, berasal dari kata itam yang bermakna hitam dan kata mieng yang bermakna pipi. Jadi sewaktu digabungkan tamiang mempunyai arti pipi hitam. 

Versi ini mengatakan demikian merujuk kepada masa asimilasi dengan orang-orang daerah lain di aceh. Pada masa itu salah satu kelompok menandai pipi mereka dengan tanda hitam yang bertujuan untuk menyatakan bahwa kelompok tersebut berasa dari Tamiang. Versi III, yang selanjutnya datang dari negeri Cina. Riwayat ini berdasarkan catatan dari Wee Pei Shih. Dia menyebut tamiang sebagai negeri kan pei chian. Sementara itu dalam buku Neggarakertagama disebutkan bahwa tamiang itu sebagai Tumihang. 

Selain itu nama tamiang juga disebutkan dalam prasasti buatan kerajaan Sriwijaya dan catatan pengembara yang bernama Rushinuddin yang pernah singgah di tamiang pada abad 14.

Tiga versi itu yang menjadi kisah awal mula nama tamiang. Sekedar informasi tambahan, sejak dari tahun 960 M tamiang disebut-sebut sudah memiliki pemerintahan yang meliputi Timur Aceh, salah satu rajanya yang bernama Tan Ganda. Tamiang mulai mengenal islam pada abad 14 dan pada masa inilah tamiang mencapai puncak kejayaannya, terutama pada masa pemerintahan Sultan Muda Setia.

   • Pers dan Harapan

Semuanya itu berawal dari titik kilas balik awal perjalanan Tamiang kemarin, hari ini dan hari esok. Gegap gempita dan hiruk pikuk mengawali proses perjalanan hari jadi Tamiang dari tahun ketahun. Segudang harapan dan impian yang terlahir dari keinginan–keinginan masyarakat yang mendambakan Tamiang kembali kemasa jayannya. 

Sudah tiga nama bupati yang tertoreh dalam perjalanan Kabupaten Aceh Tamiang. Di pundak merekalah semua cita–cita dan harapan di gantungkan. Program demi program bergulir berjalan selama 16 tahun hingga Tamiang berdiri sekarang ini, perubahan-perubahan wajah Tamiang tampak jelas dari tahun ketahun, mulai dari infrastruktur pembangunan maupun sarana dan prasarana sebagai pendukung kebijakkan program.

Peran serta lembaga sosial kontrol juga punya memiliki peranan penting dalam menyeimbangkan informasi – informasi yang berbasis kepada masyarakat. Sebut saja insan pers yang memiliki peranan penting dalam memberikan informasi – informasi sesuai dengan pasal 6 UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers salah satunya yaitu memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui. Dalam UU tersebut fungsi Pers sangat jelas sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan fungsi kontrol sosial.

Dalam konteks kontrol sosial, sering kali terlupa makna yang terkandung didalamnya seperti Sosial Partisipasi (keikut sertaan rakyat dalam pemerintahan), Sosial Responsibility (pertanggungjawaban pemerintah terhadap rakyat), Sosial Support (dukungan rakyat terhadap pemerintah), dan Sosial Kontrol (kontrol masyarakat terhadap tindakan – tindakan Pemerintah. Berbagi informasi secara menyeluruh merupakan simbol kerjasama yang terpadu guna menyelaraskan hubungan antara Pemerintah dengan insan Pers. Baik informasi yang berhubungan dengan perkembangan pembangunan atau informasi yang bersifat publikasi (iklan). Insan Pers sangat mendambakan informasi – informasi yang menjadi hubungan integritas secara fungsi dan kemitraan.

Tidak hanya dialog–dialog saja yang dilakukan secara seremonial, namun objektifitas publikasi yang sangat dibutuhkan guna menyelaraskan sebuah pemberitaan secara education. Tepat sasaran bila fungsi media itu sendiri yang melakukan secara ekspose di tengah – tengah masyarakat yang membutuhkan informasi ruang publik yang segar sesuai fungsi dan peranan Kontrol Sosial.  

Enam Belas Tahun Tamiang berdiri memiliki kandungan dua makna yang sangat esensial.

Pertama, bermakna peringatan yang bersifat ke dalam, dalam rangka evaluasi, intropeksi untuk sadar akan keberadaan jati dirinya sebagai referensi untuk ke depan yang lebih baik.

Kedua, bermakna perayaan yang dikandung maksud sebagai suatu pengamatan bahwa hari itu adalah hari jadinya sebagai sejarah tanggal keberadaannya.[] MT 
Bagikan:
KOMENTAR