Berkaca Dari Filandia


author photo

16 Apr 2018 - 16.54 WIB


Oleh: Elisa Danur� 

Albert Einstein pernah berkata :  Setiap orang adalah jenius, tapi jika menilai ikan memanjat pohon maka selamanya ia akan menganggap dirinya bodoh.

Di Indonesia, sistem pendidikan dilakukan dengan sistem kurikulum, tidak pernah melihat bakat anak, hal ini tidak dilakukan oleh Negara maju seperti Finlandia. Finlandia dikenal seluruh dunia tentang sistem mendidik generasi penerus mereka berbeda dengan kita, ditambah lagi dewasa ini terdengar isu bahwa ingin dicanangkan program 'fullday school' disesuaikan dengan kebutuhan baik industri dan lain - lain. 

Dalam hal ini cara kerja otak anak dan karakter anak berbeda. Bagi sebagian orangtua yang mempunyai anak lebih dari dua orang akan menyetujui dengan pernyataan ini. Cara mendidik anak dirumah saja beda. 

Hari ini kita terfokus dengan kurikulum yang diyakini dapat membentuk "generasi muda berkarakter". 

Kebanyakan anak – anak dipaksakan pembentukan karakternya. Bagi sebagian anak yang cocok dengan sistem ini maka ia akan merasa dirinya pintar. Namun, disisi yang lain sebagian anak akan merasa dirinya bodoh dan kepercayaan dirinya hilang. 

Sebenarnya inilah yang dinamakan dengan kejahatan intelektual dimana secara tidak langsung membunuh psikis si anak. Setiap Dokter mendapat gaji yang tinggi ini merupakan apresiasi karena dapat menyembuhkan jiwa seseorang mungkin dengan menyembuhkan jantungnya, tapi setiap pendidik, mereka mampu menyentuh hati setiap anak bahkan membuatnya lebih hidup dan berwarna, harusnya gaji pendidik dan gaji dokter itu sepadan. 

Bayangkan saja seorang dokter memberikan obat yang sama kepada setiap pasiennya dengan keluhan penyakit yang berbeda, kira kira apa yang akan terjadi setelahnya, hal ini kita bayangkan juga untuk pendidik.

Dewasa ini, pendidik dipaksakan untuk mengajari anak sesuai dengan kurikulum, bahkan bagaimana dalam 1 semester itu si anak harus mampu menguasai materi dari kurikulum tersebut. Tanpa berpikir bagaimana kondisi si anak dalam mencerna semua mata pelajaran tersebut. 

Hal yang sering dilakukan oleh pendidik masa kini yaitu mendikte dari mereka berada di Sekolah Dasar hingga mereka memasuki Perguruan Tinggi, memaksakan mereka untuk berkompetisi demi mendapatkan nilai A sebuah huruf yang diyakini dapat menentukan kualitas produk atau kejeniusan si anak. 

Namun, permasalahannya ini tidak mutlak terjadi karena kesalahan pendidik, pendidik hanya menjalankan sesuai dengan kurikulum.  

Finlandia melakukan hal hal yang luarbiasa. Sistem pendidikan mereka lebih maju dibandingkan Negara lain didunia, dimana waktu belajar mereka lebih singkat, tidak ada yang namanya PR, siswa belajar dengan cara yang menyenangkan, gaji pendidik pun tinggi dan yang lebih membanggakan lagi siswanya memilih fokus untuk berkolaborasi bersama teman – temannya dibandingkan berkompetisi. Beda dengan kita ditingkat perguruan tinggi misalnya, mahasiswa berlomba – lomba berkompetisi agar IPK (Index Prestasi Kumulatif) lebih tinggi dari teman temannya, demi sebuah pengakuan bahwa dirinya adalah pribadi yang jenius dan berkualitas. 

Sungguh sangat miris belajar berkompetisi bukan berkolaborasi. Bahkan tidak jarang ketika berdiskusi di salam sebuah konferensi malah adu itelejensi.

Tidak ada yang mampu kita lakukan selain melakukan pembenahan pada sistem pendidikan saat ini,mengubahnya secara mutlak tentu akan sangat sulit, namun apabila diilakukan dengan perlahan yakinlah pasti bisa. Karena dunia telah maju, kita butuh orang yang mau dan mampu berpikir progresif dan kritis.

Penulis adalah mahasiswi semester 8, sekarang ini aktif di Relawan Turun Tangan Lhokseumawe, Aceh Sosial Leader Forum, ketua divisi Sosial Sekolah Pemimpin Muda Aceh dan Ketua Komissariat Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi.
Bagikan:
KOMENTAR