Benturan Hukum Syariat Dengan Logika


author photo

15 Apr 2018 - 13.24 WIB


oleh: Isnardi

Aneh bin ajaib itu lah ungkapan yang pantas disamarkan dengan permasalahan saat ini. Kebijakan pemimpin Nanggroe Aceh menunjukkan keputusan yang merugikan rakyat dengan hukum sewenang-wenang, ini menjadi tandatanya(?) besar dikalangan masyarakat; kenapa tidak dengan terbongkarnya kasus psk online dan germo nya perubahan tatacara qanun jinayat berputar kearah terbalik.

 Alasan gubernur sedikit bersebrangan dengan pasal 262 ayat (1) qanun 7 tahun 2013 tentang hukum acara jinayat yang berbunyi: "uqubat cambuk dilaksanakan di suatu tempat terbuka dan dapat dilihat oleh orang yang hadir". Dari analisa pasal tersebut jelas jelas ingin menunjukkan efek jera terhadap para pelanggar syariat, serta bunyi ayat itu lebih mengarah pada tempat umum seperti yang telah dijalankan sebelum nya.

Uqubat cambuk dilakukan ditempat terbuka dan transparan tanpa ada larangan apa apa bagi orang yang menyaksikan. Namun, membuat hal ini viral di masyarakat bukan lah tentang  pencambukkan dialihkan ke LP, akan tetapi; seolah olah persepsi masyarakat bahwa ada unsur lain di balik ini semua, seperti memberikan keringanan hukum terhadap pelaku prostitusi online dan germo nya dalam menjalani proses hukum.

Pada hal dalam pasal 269 jelas disebutkan, bahwa setiap perubahan harus mendapatkan pertimbangan DPRA. Dari sisi ini lah terdapat banyak kejanggalan eksekutif dalam mengambil kebijakan hukum, serta menunjukkan emosional seorang gubernur yang telah mengalih fungsi kan DPRA secara menyeluruh dari kewenangan nya. 

Sikap gubernur banyak menuai kontroversi ketidakadilan, kenapa tidak! semenjak terbongkar nya kasus psk online, rakyat melihat sendiri tidak ada tanggapan yang serius dari seorang pemimpin Serambi Mekkah ini. Malahan yang ada perubahan uqubat cambuk dari tempat umum, ketempat terbuka agak tertutup; Jangan jangan ada udang dibalik bakwan. he he he

Masyarakat juga berharap hukuman kepada prostitusi online harus tuntas, karena mereka telah mencorengkan  nama baik ke-Acehan serta merusak moral dan etika anakcucu para petuah negeri ini.

Kalau rakyat, LSM, ORMAS dan Organisasi lain yang ada di Aceh tidak mau keikutsertaan nya dalam mengawal syariat islam, bukan hal tidak mungkin Aceh akan memiliki sejarah yang sama seperti spanyol. Islam dibumi Serambi Mekkah ini datang dengan sendiri nya dan pergi tanpa kita sadari.

Isnardi adalah mahasiswa Almuslim Bireuen, FISIP jurusan Adm negara. Alumni Sekolah Pemimpin Muda Aceh (SPMA).
Bagikan:
KOMENTAR