APBA di Mata Seorang Geuchik


author photo

21 Jan 2018 - 13.40 WIB


Pemerintah Aceh di kenal dengan nergeri bersyariat islam Julukan ini bukan tidak mendasar dan punya ketetapan aturan yang luar biasa. Konon lagi Aceh mendapatkan otonomi khusus
Lewat perjanjian antara Aceh dan jakarta.

Mestinya membuat Aceh kian  bercahaya bagai bulan dalam masa kepurnamaannya.Dan wanginya bagai mawar dlm masa kemekaranya. Namun semua itu bagai mimpi basah seorang perjaka dalam masa lajangnya. Rakyat Aceh hanya mendapatkan sebuah luka yang menganga. 

Korban konflik belum semuanya teratasi. Lapangan pekerjaan yang semakin sempit. Sawah tadah hujan, jembatan tak layak sebrang. Jalan dan kubangan sulit kita bedakan. Para rakyat sudah mulai menjadi demostran.

Di tambah lagi dengan Carut marutnya APBA. Kian membuka kain di pinggang, seharusnya. Para pemangku kebijakan. kebrobrokan seperti ini tidak di pertontonkan pada publik dan di selesaikan penuh wibawa dalam bingkai peradaban.

Pemerintah Aceh plus DPRA kian mencoreng sekaligus membuka ketidak mampuan berdiflomasi sesama jajaran berdasi. Maunya mereka saling mengalah untuk satu tujuan. Yaitu memenuhi keinginan rakyat, yang semakin menderita.

Ayolah kita kita wujutkan mimpi rakyat ketika pagi menjelang tiba. Jangan  biarkan amarah mereka kian memuncak. Bukankah kita hari ini lahir dari rahim rakyat dan akan kembali pada rakyat.

Penulis adalah salah seorang Geuchik di Aceh Utara.
Bagikan:
KOMENTAR