Alat Belanda Jadi Saksi Bisu di Aceh Timur


author photo

15 Jan 2018 - 22.14 WIB


Benda peninggalan belanda di kebun Karang inong, Desa Alue Genteng, kecamatan Ranto Pereulak, kabupaten Aceh Timur.
Radaraceh.com | Aceh Timur - Belanda Pergi meninggalkan benda yang menjadi saksi membisu. Kebun karang Inong dan beberapa benda kata Jumali akrap disapa wak jhon peninggalan milik belanda dan serdadunya. Mereka bercocok tanam di kebun yang hari ini bernama kebun Karang Inong. maka tak heran jika beberapa benda peninggalan belanda masih tersisa disini.

Sebuah benda menyerupai meriam terpajang di bawah mata hari, ditepi jalan arah masuk pondok Afdiling I Sanggrahan. Sekitar I kilo meter dari jalan Lintas. Dari kondisinya benda itu menyimpan banyak kisah. Ternyata benda itu bukan alat tempur malainkan mesin pompa air milik belanda.  

"Banyak orang mengira benda ini merupakan alat tempur yang di gunakan serdadu belanda saat menjajah nusantara, hingga tanoh rencong, tetapi itu salah, ini hanya mesin pompa air, Bukan meriam, benar ini peninggalan belanda saat bercocok tanam di Kebun Karang Inong,'Kata Wak Jhon.

Tangki Air Belanda

Wak jhon warga dan Jauhari kepala desa Alue Genteng  menyambut dua  wartawan saat  mengabadikan gambar gambar peningggalan serdadu belanda di Kebun Karang Inong yang masuk dalam sektor Ranto Pereulak, kabupaten Aceh Timur pada Minggu 13 Januari 2018 kemarin.

Awalnya dua wartawan berbincang dengan jauhari, menanyakan apa yang di ketahuinya dengan benda yang menjadi saksi bisu. Juga menayakan apa yang di lakukan belanda selama berada di kebun karang Inong. Jauhari tidak banyak tahu tengtang aktivitas belanda saat itu, dia hanya mengingat bahwa benda itu telah ada sejak ia berdomisili di kebun peninggalan belanda itu.

"Hana that ta tuoh ado, nyo sang meriam ata awak belanda, karena mirip ngon meriam, (tidak banyak tahu adik, mungkin meriam milik belanda. Karena mirip meriam) kata Jauhari.

Tak lama berbincang, Jumali alias wak Jhon tiba dia hendak kembali kerumahnya menggunakan becak mesin, dan singgah di lokasi karena melihat wartawan saat mengabadikan gambar.

Wak jhon dengan akrap menjelaskan satu persatu benda penginggalan belanda itu. Ia menceritakan mula Karang Inong yang menjadi BUMN. Yang paling menarik kisah di balik benda benda peninggalan belanda.

Mulai dari benda yang di duga meriam, wak jhon menjelaskan bahwa benda itu bukan meriam atau alat tempur, tetapi benda itu adalah mesin pompa air ber merek SELVE. Hanya saja pihak otoritas kebun memajangnya di tempat terbuka. Masin itu memiliki dua roda juga  tangki minyak, dan laras panjang hampir menyerupai alutsista.


"Ini mesin pompa air bukan senjata meriam, mesin ini buatan inggris tahun 1921  yang ditinggalkan belanda yang kini usianya sudah ratusan tahun, yang juga sempat saya oprasikan sejak saya mulai bertempat di kebun Ini, kata wak Jhon

Wak jhon menjelaskan lebih dalam, dirinya berada di kebun Karang Inong dari tahun 1970. Mulanya benda itu berada dekat alur sungai di sekitar perkantoran belanda, yang saat ini lokasi itu juga pemukiman yang di huni ratusa kapala keluarga.

"Jadi pompa air ini dulu digunakan untuk menyuplai air kepemukiman keperkebunan belanda, dahulu belanda mananami tanaman sawit sini, juga sempat berdiri pabrik pengolah sawit disini, dan saat mereka kalah dengan pahlawan kita maka dari itu mereka meninggalkan kebun karang Inong ini, ungkap wak Jhon.

Selain mesin Pompa air, kata Wak Jhon, benda lain juga masih utuh seperti besi tangki air satu unit, Besi pabrik pemerah minyak Sawit dua unit, juga benda yang seperti rel kereta barang, dan bong kereta barang, ironisnya sejumlah barang yang jadi saksi bisu itu mulai lapuk dan berkarat dan sebagian telah di jual oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.


"Sebagian sudah banyak terjual besinya, ini sudah sangat lama, sedang keempat benda ini sempat tersisa karena pihak kebun mengabadikannya menjadi hiasan di depan kantor Pos penjaga. Kata Wak Jhon yang juga mengatakan beberapa lokasi bekas peninggalan belanda menyimpan cerita mistis.

Kendati demikian tak semestinya benda benda itu di biarkan lapuk termakan usia bagaimanapun benda itu menjadi bukti bahwa negeri ini adalah negeri para Pahlawan yang Luhur. Benda itu mengingatkan generasi penerus agar tak jatuh pada lubang yang sama yakni penjajahan. (Romy)

Oleh Ardiansah.
Bagikan:
KOMENTAR